Pembaharuan Islam dalam Pemikiran Rasyid Ridha: Jembatan Antara Tradisi dan Modernitas

 Pembaharuan Islam dalam Pemikiran Rasyid Ridha: Jembatan Antara Tradisi dan Modernitas


Penulis: Nerena San Fahiza

Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Natuna Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam


Rasyid Ridha merupakan sosok yang berhasil membawa umat Islam ke dalam pemikiran yang lebih baru dan terbuka. Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan pada 27 Jumadil Awal 1282 Hijriah atau bertepatan dengan 23 September 1865. Ia dilahirkan di Qalamun, sebuah desa di pantai Laut Tengah yang jaraknya tiga mil dari Tripoli, Lebanon. Di masa itu, Lebanon adalah bagian dari Kerajaan Turki Usmani. Memiliki nama lengkap Muhammad Rasyid bin Ali Ridha bin Syamsuddin bin Baha'uddin Al-Qamunan Al-Husaini, dunia Islam lebih mengenalnya dengan nama Muhammad Rasyid Ridha. Melalui karyanya, ia berusaha mengajak seluruh muslim untuk kembali ke ajaran Islam yang murni, memerangi bidah dan khurafat, serta menghilangkan paham fatalisme. Rasyid Ridha telah wafat pada tahun 1935 silam. Meski puluhan tahun berlalu, pemikiran-pemikirannya tetap menjadi inspirasi, terus dipelajari,dan menjadi rujukan dalam berbagai diskusi tentang keislaman.

Saat Dunia Islam Tertidur

Dunia Islam, memasuki abad ke-19 dan awal abad ke-20, berada di titik terendah. Julukan "The Sick Man of Europe" yang diberikan pada Kekhalifahan Utsmani mencerminkan kemunduran yang dialami hampir seluruh negeri Muslim. Kita menyaksikan tanah-tanah air dikuasai penjajah Barat, ilmu pengetahuan, dan semangat umat seperti terperangkap dalam jaring laba-laba. Faktor-faktor kemunduran itu datang dari dua arah. Secara eksternal, kolonialisme Barat merampas sumber daya dan kedaulatan. Namun, secara internal, penyebab utamanya adalah stagnasi pemikiran suatu kondisi di mana umat merasa nyaman dengan sikap taqlid (ikut-ikutan buta) terhadap ulama masa lalu, menolak berpikir kritis, dan menganggap pintu Ijtihad (penafsiran baru) telah tertutup rapat. Di tengah kegelapan itulah muncul tiga serangkai pemikir besar: Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan murid setianya, Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935). Jika al-Afghani adalah obor yang menyalakan semangat revolusi, dan Abduh adalah arsitek yang meletakkan fondasi rasional, maka Rasyid Ridha adalah penyambung lidah yang memastikan gagasan-gagasan ini menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ia adalah seorang ulama yang memilih pena dan kertas sebagai senjata utamanya.

Senjata Pencerahan: Majalah Al-Manar

Alat perjuangan Rasyid Ridha adalah Majalah Al-Manar (Menara), yang ia dirikan pada tahun 1898 di Mesir. Ini bukan sekadar media cetak tetapi Al-Manar adalah menara suar yang memancarkan cahaya reformasi ke seluruh Samudra Hindia hingga kepulauan Melayu. Melalui Al-Manar, Rasyid Ridha tidak henti-hentinya menyerukan dua hal fundamental, yaitu kritik tajam terhadap taqlid yang memastikan dan dorongan untuk kembali kepada Ijtihad. Dengan gaya bahasa yang populer namun berbobot, ia juga mendidik masyarakat, menjembatani jurang antara modernitas Barat yang menakutkan dengan warisan Islam yang kaya, dan menunjukkan bahwa keimanan sejati adalah keimanan yang rasional.

Pilar-Pilar Kebangkitan

Pemikiran Rasyid Ridha berdiri di atas fondasi yang kokoh, untuk menyatukan kembali akal (rasionalitas) dengan wahyu (otoritas agama).

Membuka Kunci Pikiran: Kewajiban Ijtihad: Rasyid Ridha bersikeras bahwa pintu Ijtihad tidak pernah dan tidak akan pernah tertutup. Ia berargumen bahwa Al-Qur’an dan Sunnah adalah sumber yang dinamis.

Bagaimana mungkin masalah-masalah kontemporer yang tidak ada di zaman Nabi (seperti bank,teknologi komunikasi, atau etika digital) diselesaikan hanya dengan merujuk pada buku-buku fiqih kuno? Jawabannya adalah Ijtihad. Umat Islam harus menggunakan akal sehat dan prinsip Masalah Masalah (kepentingan umum) untuk menafsirkan ajaran agama sesuai tuntutan zaman. Inilah kunci untuk menjadikan Islam relevan, bukan fosil sejarah.

Salafiyah: Pemurnian, Bukan Pengerasan. Ketika Ridha menyerukan Kembali kepada Salaf al-Shalih (generasi awal Islam), ia tidak mengajak umat untuk hidup seperti di abad ke-7. Salafiyah yang ia maksud adalah gerakan pemurnian. Tujuannya adalah memisahkan Islam dari lapisan debu tradisi, bid’ah, khurafat, dan praktik takhayul yang telah melemahkan umat.

Dengan membersihkan akidah, Rasyid Ridha yakin umat akan menemukan kembali kekuatan asli Islam yang rasional, toleran, dan ilmiah. Ini adalah upaya untuk mengambil yang asli, membuang yang palsu, dan membuka diri terhadap kemajuan.

Kurikulum Ganda untuk Kebangkitan, Rasyid Ridha melihat bahwa sistem pendidikan adalah penyakit utama umat. Ia mengkritik keras madrasah tradisional yang hanya fokus pada ilmu agama tanpa menyentuh ilmu dunia, dan sebaliknya, ia juga mengkritik sekolah modern yang sekuler tanpa dasar moral.

Solusinya adalah Integrasi Holistik. Ridha mendesak agar ilmu-ilmu modern seperti sains, matematika, dan teknologi diintegrasikan ke dalam kurikulum Islam. Ia percaya, seorang Muslim harus menguasai usul fiqh (prinsip hukum) sekaligus fisika. Pendidikan harus menghasilkan individu yang kuat imannya dan canggih ilmunya.

Ambil Madunya, Buang Racunnya. Sikap Ridha terhadap Barat sangat pragmatis, mengambil teknologi dan sains mereka, tolak moral dan budaya mereka yang merusak.

Ia berpendapat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan adalah milik seluruh umat manusia, tidak terikat pada satu peradaban saja. Teknologi, mesin cetak, dan metode ilmiah adalah universal (Ma'asy atau duniawi) dan harus diadopsi untuk membangun kembali peradaban Islam. Tetapi, ia menolak keras westernisasi buta yang dapat mengikis identitas dan moralitas Islam. Inilah cara untuk menjadi modern tanpa kehilangan jati diri.

Warisan Dan Relevansi Abadi

Jejak Al-Manar Di Seluruh Dunia, Pengaruh Rasyid Ridha meluas jauh melampaui Mesir. Melalui Al- Manar, gagasan pembaharuan menyebar secara global, mencapai wilayah yang kini kita kenal sebagai Indonesia dan Malaysia. Pemikir dan aktivis di Asia Tenggara yang kala itu sedang berjuang melawan kolonialisme sangat terinspirasi oleh seruan Ijtihad dan pemurnian ajaran. Ide-ide inilah yang kemudian menjadi landasan bagi gerakan-gerakan Islam modern di Nusantara.

Tentu saja, pemikiran Ridha tidak lepas dari kritik. Di akhir hayatnya, beberapa pandangan politiknya,terutama terkait Khilafah, dianggap sebagian kalangan mulai mengeras dan kurang fleksibel. Hal ini menunjukkan bahwa setiap pemikir besar pun melibatkan diri dengan tantangan zaman.

Mengapa Rasyid Ridha Tetap Relevan Hal Ini? Semangat Rasyid Ridha adalah semangat Tajdid (pembaharuan) yang abadi. Ijtihad Digital: Di era digitalisasi dan bioteknologi, seruan Rasyid Ridha untuk Ijtihad sangat relevan. Kita membutuhkan para ulama dan ahli yang berani menafsirkan teks suci untuk masalah-masalah yang sama sekali baru, seperti etika kecerdasan buatan atau transaksi e-commerce. Pendidikan Holistik: Model pendidikan yang ia usulkan menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum masih menjadi solusi utama untuk mencetak generasi Muslim yang utuh atau saleh secara spiritual dan unggul secara profesional.

Figur Rasyid Ridha adalah manifestasi nyata dari pepatah "pena lebih tajam dari pedang" dan seorang pragmatis yang cerdas di tengah krisis identitas global. Mengapa Pemikiran Ridha Sangat Berharga? Karen Saya melihat sebagai tanda kasih terbesar Rasyid Ridha, terutama melalui Majalah Al-Manar, adalah kemampuannya untuk mendemokratisasi pemikiran pembaharuan.

Rasyid Ridha adalah sosok yang berhasil membawa umat Islam ke era baru dengan pemikiran yang lebih terbuka dan rasional. Dia menunjukkan bahwa Islam bukanlah penghalang kemajuan, melainkan pendorongnya. Kunci utamanya adalah keberanian ber-Ijtihad, pemurnian ajaran, dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan. Semangat Tajdid (pembaharuan) yang dia tinggalkan masih relevan dengan kebutuhan zaman sekarang, terutama di era digitalisasi dan bioteknologi.

Marilah kita teladani semangat tajdid Rasyid Ridha. Ingatlah, keimanan yang kuat dan kemajuan peradaban adalah dua sisi mata uang yang tidak bertentangan. Tugas kita adalah terus berpikir, terus maju, dan terus memancarkan cahaya dari menara suar yang telah ia tinggalkan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama