Resep Merawat Nusantara Ala Gus Dur : 3 Pilar Pembaharuan Pemikiran Untuk Moderasi Beragama

Resep Merawat Nusantara Ala Gus Dur : 3 Pilar Pembaharuan Pemikiran Untuk Moderasi Beragama 


Nama : Indry Anggita Sari

Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Natuna Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam


   Indonesia dengan semua kekayaan suku, bahasa, dan agama. Bagaimana cara mempertahankan keberagaman dan memastikan supaya keberagaman kita tetap damai dan toleran. Di tengah kondisi polarisasi yang terkadang memanas, di tengah kondisi seperti ini teringat lah pada sosok visioner yang meletakkan fondasi kuat bagi persatuan bangsa Indonesia. Mendiang Abdurrahman Wahid atau yang kerap disapa dengan Gus Dur, beliau bukan sekadar seorang presiden unik, tetapi juga seorang ulama dan intelektual yang mana pemikirannya melampaui pada zamannya. Bagi banyaknya kalangan, pemikiran Gus Dur tentang pluralisme, kemanusiaan, dan pribumisasi bukan sekedar wacana semata, melainkan resep mujarab merawat nusantara. Inti pemikiran Gus Dur merupakan keyakinan bahwa Islam harus membumi di Nusantara untuk menjadi sumber kedamaian, bukan sumber kekerasan.

Pilar Humanisme : Memanusiakan Manusia

   Bagi seorang Gus Dur suatu agama harus bermula dan berakhir pada nilai kemanusiaan. Sebuah moderasi tidak akan terlahir jika kita masih memandang orang lain berdasarkan label agama, suku, atau afiliasi politik mereka.

   Gus Dur memperkenalkan sebuah konsep Humanisme Universal yang mana menempatkan keadilan, martabat, dan hak - hak asasi manusia sebagai nilai tertinggi. Dalam pandangannya suatu agama sudah semestinya membawa kasih sayang, keadilan, dan saling menghargai bukan malah menjadi asalan untuk diskriminasi atau kebencian. Apabila terdapat pertentangan antara dalil agama yang multitafsir dengan nilai kemanusiaan universal, Gus Dur selalu condong pada nilai kemanusiaan. Contohnya Gus Dur sering membela hak-hak minoritas dan menjaga kebebasan beragama sebagai bukti bahwa suatu agama harus melindungi kemanusiaan. Filosofi humanisme universal juga terangkum dalam ucapan iconic Gus Dur:

“ Tidak penting apa agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu. “

Pribumisasi Islam: Menghargai Konteks Lokal

    Pilar ini merupakan salah satu karya besar Gus Dur untuk membawa Islam lebih dekat dengan budaya-budaya lokal Indonesia. Gus Dur percaya bahwasannya Islam bukan agama yang harus kaku dan dipaksakan secara asing, tetapi agama yang bisa berbuah indah dengan tradisi dan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Pribumisasi Islam adalah upaya menyelaraskan ajaran Islam dengan tradisi dan kearifan lokal Indonesia. Pribumisasi ini bukan mengubah hukum dasar syariat Islam, tetapi mengubah manifestasi atau cara Islam dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengapa pribumisasi adalah resep mujarab moderasi?

Pertama, inklusif : ia menciptakan Islam yang ramah budaya dan tidak terasa asing dengan Indonesia.

Kedua,fleksibel: dengan merangkul tradisi-tradisi lokal yang ada di Indonesia seperti tahlilan,ziarah kubur atau dalam bentuk-bentuk kesenian lokal Indonesia.

   Pribumisasi islam merupakan penegasan bahwa kita bisa menjadi seorang muslim yang taat dan menjadi Indonesia yang sejati. Tujuannya supaya agama Islam dapat mengakar tanpa kehilangan relevansi di tengah masyarakat multikultural Indonesia. Hal ini merupakan upaya untuk menyatukan, menggabungkan tradisi-tradisi dan modernitas dengan mengambil aspek yang rasional dan positif dari keduanya ( Neomodernisme ).

Pluralisme dan Kebebasan Keyakinan

   Teorisasi adalah menerimanya perbedaan, tetapi Gus Dur mengajarkan sesuatu yang lebih dalam dari toleransi yaitu pluralisme sejati. Pluralisme merupakan pengakuan lebih dalam bahwa keberagaman merupakan sebuah takdir yang semestinya patut dihormati dan dilindungi secara aktif. Dalam bingkai suatu negara, Gus Dur menekankan bahwa negara harus netral. Agama merupakan urusan personal, sementara itu tugas suatu negara adalah melindungi semua warga negara secara adil dan secara. Negara tidak boleh menjadi hakim yang menentukan mana agama dan manakah yang paling benar. Banyak orang salah kaprah dalam mendefinisikan pluralisme, ada yang mengira pluralisme berarti "semua agama sama benarnya.” yang sering dijadikan dalih untuk menolak konsep ini. Tetapi, pluralisme dalam versi Gus Dur itu lebih berbeda. Pluralisme itu bukan menyamakan tetapi mengakui dimana Gus Dur tidak pernah menyamakan semua agama. Ia mengakui bahwa setiap agama tetap paling benar bagi penganutnya (partikularitas). Pluralisme bagi seorang Gus Dur adalah kesadaran akan pluralisme yang merupakan sunnatullah, ketetapan tuhan.

   Selain itu kebebasan dan keadilan, inti dari pluralisme Gus Dur yang merupakan pengakuan aktif terhadap keberagaman agama lain dari kelompok minoritas. Hal ini bukan sekedar "hidup damai berdampingan" tapi tentang membela keadilan bagi yang hak-haknya terancam entah minoritas agama, etnis, atau kelompok minoritas dalam Islam sendiri, seperti yang khusus ditunjukkan dalam pembelaannya terhadap Ahmadiyah atau etnis Tionghoa.

   Gus Dur berjuang keras guna memasukan perspektif pluralisme ini ke dalam kebijakan publik bahkan jika itu berarti ia harus bertentangan dengan arus utama perjuangan pembelaan, karena kepercayaan lokal atau minoritas agama menunjukkan bahwa bagi seorang Gus Dur, kebebasan berkeyakinan adalah hak asasi yang tidak bisa ditawar-tawar. Pluralisme sejati adalah fondasi terakhir yang menjaga supaya perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan. Gus Dur selalu lantang dalam memperjuangkan kebebasan berkeyakinan karena baginya merupakan hak dasar manusia yang dijamin oleh konstitusi undang-undang dasar 1945 dan juga memiliki landasan teologis yang kuat dalam Islam seperti tidak ada paksaan dalam hal agama. Gus Dur melihat agama sebagai proses, bukan hal akhir yang beku.

Warisan Abadi Bapak Pluralisme

   Tiga pilar dari pemikiran Gus Dur bukan hanya sekedar teori yang indah di atas kertas, tetapi merupakan metodologi untuk beragama yang dewasa dan bernegara yang adil. Humanisme mengasah hati nurani, pribumisasi menjaga kearifan budaya budaya Indonesia, dan pluralisme menegaskan bahwa tanggung jawab kita sebagai bagian. Saej bangsa yang majemuk. Di tengah tantangan kontemporer, mulai dari politik identitas yang memecah belah hingga algoritma media sosial yang memperkuat ego kelompok, pemikiran Gus Dur adalah vaksin yang paling efektif. Beliau mengingatkan kita bahwa keindonesiaan adalah takdir yang tidak terhindarkan, dan Islam yang sejati adalah Islam yang memberikan rahmat bagi seluruh alam atau rahmatan lil alamin tugas kita bukan hanya mengenang Gus Dur sebagai tokoh masa lalu tetapi mengamalkan semangatnya dalam keseharian sehari-hari. Mengutamakan kemanusiaan dari segalanya mencintai dan melestarikan budaya Indonesia dan hormati hak setiap orang untuk berbeda keyakinan. Dengan memegang tiga pilar ini kita dapat memastikan bahwa moderasi beragama akan menjadi identitas Indonesia menjaga Nusantara. Pemikiran Guntur memberikan kebakaran nilai bagi Indonesia titik di tengah maraknya itu toleransi di rumah kembali merenungi dan mempraktikkan 9 nilai utama Gus Dur termasuk ketauhidan , kemanusiaan, keadilan, dan persaudaraan adalah keharusan. Pembangunan Indonesia yang damai dan harmonis berarti proses memperjuangkan pluralisme dan kebebasan keyakinan sebagai bagian integral dari identitas bangsa, bukan sekedar pelengkap.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama