Reaktualisasi Pemikiran Rasyid Ridha dalam Dinamika Reformasi Islam Kontemporer

Reaktualisasi Pemikiran Rasyid Ridha dalam Dinamika Reformasi Islam Kontemporer


 Penulis: Alfiatul karima

Mahasiswa Prodi komunikasi dan penyiaran islam STAI Natuna

   Dalam banyak perbincangan tentang kemunduran dunia Islam, kita cenderung tergoda menyalahkan faktor luar kolonialisme, imperialisme, atau dominasi Barat. Namun, jika kita menelusuri sejarah akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, masa ketika peradaban Islam menghadapi krisis multidimensi, ada tokoh yang melihat akar masalahnya dengan cara berbeda. Tokoh itu adalah Muhammad Rasyid Ridha. Ia bukan sekadar pemikir, tetapi penjaga bara reformasi yang diwariskan Muhammad Abduh, dan melalui majalah al-Manar, ia menjadi suara kritis bagi umat yang tertidur panjang. Ridha membaca krisis umat dengan jujur, pendidikan berenti, taqlid merajalela, lembaga keagamaan terjebak pada hafalan tanpa nalar, dan kaum Muslim kehilangan kemampuan membaca zaman. Ia tidak menutup-nutupi, bahkan menegaskan bahwa kemunduran umat bukan hanya akibat tekanan asing, melainkan juga buah dari ketidakmauan internal untuk berijtihad dan memperbarui cara berpikir.

Ijtihad dan pembaharuan Pendidikan 

   Salah satu gagasan Ridha yang paling revolusioner adalah pembelaannya terhadap ijtihad. Baginya, ijtihad bukan ritual akademik, melainkan pintu agar Islam tetap hidup dan relevan. Tafsir yang ia kembangkan melalui al-Manar menunjukkan keberanian menolak riwayat lemah, membongkar mitos-mitos Isrā’īliyāt, dan menekankan pembacaan rasional yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ridha seolah menegur kita yang kadang memposisikan agama sebagai kumpulan aturan statis, padahal hakikatnya ia adalah tuntunan moral yang harus bergerak seiring perubahan zaman. Pandangan maju Ridha juga tampak dalam gagasannya mengenai pendidikan. Ia mengecam sistem pendidikan tradisional yang hanya mengandalkan hafalan dan mengabaikan keterampilan berpikir kritis. Ridha menekankan bahwa pendidikan harus membentuk manusia yang utuh cerdas, religius, tetapi juga produktif dan mampu memahami ilmu pengetahuan modern. Bahkan, ia menegaskan pentingnya pendidikan perempuan, sebuah langkah yang pada zamannya dianggap radikal. 

Reformasi hukum dan politik menurut Ridha

   Dalam bidang hukum, Ridha mengajak umat Islam melihat syariat melalui lensa maqaṣid al-syari‘ah bukan sekadar menghafal bunyi pasal, tetapi memahami tujuan moralnya. Ia menegaskan bahwa hukum Islam harus melindungi martabat manusia, menjaga keadilan, serta menjamin hak perempuan dan anak. Ia melawan cara pandang sempit yang menempatkan syariat hanya sebagai seperangkat aturan kaku. Dengan demikian, bagi Ridha, Islam bukan sekadar sistem ritual, tetapi fondasi moral sebuah masyarakat yang adil. Di ranah politik, ia menunjukkan keberanian yang tidak kalah penting. Ridha menolak otoritarianisme dan menyuarakan pentingnya syura, akuntabilitas, dan pemerintahan yang berlandaskan etika. Inilah gagasan yang jarang dibahas ketika orang memikirkan negara Islam, Ridha justru menawarkan gambaran yang modern,demokratis, dan tetap religius.

   Majalah al-Manar menjadi sarana Ridha menyebarkan gagasannya, lebih dari sekadar majalah, ia adalah ruang publik intelektual yang menyambungkan wacana dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara. Pengaruh Ridha sangat terasa pada tokoh-tokoh modernis Indonesia seperti Ahmad Dahlan dan Haji Agus Salim. Walau diterpa kritik dari kelompok konservatif,pemikirannya terbukti fleksibel dan mudah diadaptasi dalam berbagai konteks pendidikan, hukum,dan organisasi keagamaan.

Urgensi reaktualisasi pemikiran Ridha

 Dunia Islam kembali menghadapi tantangan global dari krisis moral hingga ekstremisme dan ketimpangan sosial gagasan Ridha semakin mendesak untuk dihidupkan kembali. Ia mengingatkan bahwa reformasi bukanlah proyek sekejap, melainkan perjalanan panjang yang memerlukan keberanian berpikir dan kesediaan mengkritik diri sendiri. Ridha menunjukkan bahwa Islam tidak anti pada modernitas justru, modernitas dapat menjadi ruang untuk mengaktualisasikan nilai-nilai moral Islam jika dipandu oleh ijtihad dan nalar sehat.

  Menurut saya, warisan terbesar Ridha bukan pada tafsir atau tulisannya, tetapi pada cara berpikirnya keengganannya menerima status quo dan keberaniannya mengajak umat untuk berijtihad. Ridha melihat dengan sangat jelas bahwa kemunduran umat Islam bukan sekadar akibat penjajahan. Ia justru menuding ke dalam pendidikan yang beku, budaya taqlid, dan ketidakmampuan memahami zaman. Bukankah ini juga yang terjadi sekarang? Banyak umat sibuk memperebutkan label halal dan haram, tetapi lupa memperjuangkan keadilan, sibuk menghafal teks agama, tetapi enggan membangun nalar kritis. Ridha sudah memperingatkan kita sejak lama,namun kita seolah memilih tuli. Dalam pandangan saya, ijtihad yang Ridha tawarkan adalah tamparan bagi tradisi keagamaan yang hanya mengulang pendapat lama tanpa mempertimbangkan realitas baru. Kita hidup di era kecerdasan buatan, krisis sosial, ekonomi digital, dan globalisasi.

   Satu hal lagi yang sering dilupakan, Ridha adalah pembela pendidikan modern dan pengangkat derajat perempuan. Baginya, perempuan adalah pilar pendidikan masyarakat. Saya berpendapat bahwa keberanian ini menunjukkan bahwa Ridha bukan sekadar reformis keagamaan,tetapi reformis sosial. Di bidang politik, Ridha menolak absolutisme. Ia menegaskan bahwa syura,keadilan, dan akuntabilitas adalah prinsip Islam. Namun hingga kini, kita masih melihat banyak masyarakat Muslim yang memuja simbol-simbol keagamaan, tetapi melupakan etika politik. Ridha ingin negara yang bermoral, bukan sekadar negara yang memakai label Islam. Dan saya sepenuhnya setuju tanpa moralitas, negara Islam tinggal nama. Bagi saya, kehebatan Ridha bukan terletak pada orisinalitas ide banyak gagasannya juga dimiliki reformis lain. Kehebatannya justru terletak pada keberaniannya menyerukan perubahan di saat perubahan sangat ditakuti. Ia menolak kenyamanan taqlid dan memilih risiko intelektual. Dan itulah yang dibutuhkan umat Islam, keberanian, bukan sekadar nostalgia. Maka, jika ada satu pesan dari Ridha yang paling penting untuk zaman kita, menurut saya pesannya adalah Umat Islam hanya akan bangkit jika berani berpikir, bukan hanya berani mengulang.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama