Penulis: Muhamat Aldi
Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Natuna, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam
Saya mengidolakan Muhammad Abduh pertama kali lewat satu kalimatnya yang sangat terkenal: “Islam sejalan dengan akal sehat. Jika ada yang tampak bertentangan, maka yang salah bukan Islamnya, tetapi pemahaman kita.” Kalimat ini membuat saya tertarik untuk mengkaji sosoknya lebih dalam. Bagi saya, Abduh bukan sekadar ulama klasik, tetapi tokoh pembaharuan yang berani berpikir di luar kebiasaan zamannya.
Di era ketika berbagai perdebatan agama berseliweran di media sosial, saya merasa pemikiran Abduh sangat relevan. Ia mengajarkan bahwa agama tidak anti-ilmu dan tidak memusuhi logika. Justru akal adalah alat penting untuk memahami pesan-pesan wahyu. Inilah alasan mengapa saya mengidolakan Muhammad Abduh: pikirannya segar, kritis, dan masih hidup hingga kini.
Konteks Pemikiran Muhammad Abduh
Pemikiran tidak lahir di ruang hampa. Abduh hidup dalam situasi dunia Islam yang terpuruk pada abad ke-
19. Mesir berada di bawah pengaruh kolonial Inggris, pendidikan keagamaan terjebak pada hafalan, dan banyak ulama bersikap tertutup terhadap perubahan. Umat Islam kehilangan semangat mencari ilmu, padahal sejarah mencatat mereka pernah memimpin dunia dalam sains, kedokteran, matematika, astronomi, dan filsafat.
Kondisi itu membuat Abduh bertanya: “Kenapa Islam pernah maju, tetapi kini tertinggal?”
Jawaban yang ia temukan sederhana, namun tajam: karena umat Islam meninggalkan akal dan tenggelam dalam taklid buta.
Ia melihat banyak orang beragama hanya mengikuti tradisi tanpa memahami makna. Sementara itu, masalah besar seperti kemiskinan, pendidikan, dan ketidakadilan sosial kurang mendapatkan perhatian. Inilah konteks yang melahirkan gagasan pembaharuannya.
Islam dan Akal Sehat: Pusat Pemikiran Abduh
Menurut Abduh, Islam pada dasarnya selalu menghargai akal. Al-Qur’an berkali-kali memerintahkan manusia untuk berpikir, meneliti, dan merenung. Karena itu, Abduh menolak keras pemahaman agama yang bertentangan dengan logika.
Baginya:
Pertama: Wahyu dan akal tidak mungkin bertolak belakang
kedua: Ketika terjadi pertentangan, yang salah adalah penafsiran, bukan ajarannya ketiga: Agama harus dipahami sesuai konteks zaman
Abduh mengkritik kebiasaan tahayul, kultus individu, dan fanatisme mazhab yang tidak berdasar. Saya pribadi sangat setuju dengan cara pandang ini, karena sering kali masalah keagamaan muncul bukan dari ajaran, tetapi dari cara memahaminya secara sempit.
Potret Pembaharuan Muhammad Abduh
Abduh bukan hanya berpikir, tetapi juga bertindak. Beberapa langkah pembaharuan yang ia lakukan meliputi:
1. Pembaruan Pendidikan
Ia mereformasi Al-Azhar dengan memasukkan ilmu pengetahuan umum seperti sains, matematika, dan sejarah. Ia ingin santri dan mahasiswa keagamaan memahami dunia secara menyeluruh, bukan hanya satu sisi.
2. Membuka Pintu Ijtihad
Abduh menolak anggapan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Menurutnya, hukum Islam harus hidup, berkembang, dan bisa menjawab tantangan modern.
3. Penguatan Rasionalitas Agama
Ia menulis tafsir dan karya-karya yang menjelaskan Al-Qur’an secara logis dan kontekstual. Tafsirnya
banyak menggunakan pendekatan akal sehat.
4. Kebebasan Berpikir dalam Agama
Abduh mendorong umat Islam untuk tidak hanya menelan pendapat ulama lama, tetapi mengkajinya ulang agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Potret ini menunjukkan bahwa Abduh adalah ulama progresif. Ia tidak memisahkan dunia dan akhirat, tetapi menyatukannya melalui akal, ilmu, dan iman.
Relevansi Pemikiran Abduh Hari Ini
Menurut saya, pemikiran Muhammad Abduh justru semakin penting dalam kehidupan umat Islam masa kini, terutama di era digital:
Pertama: Banyak hoaks keagamaan beredar tanpa nalar Kedua: Debat agama sering emosional dan tidak ilmiah
Krtiga: Pemahaman agama sering sempit dan hitam-putih Keempat: Generasi muda butuh teladan berpikir kritis
Abduh mengajarkan kita agar tidak takut berpikir, tidak alergi pada ilmu modern, dan tidak cepat menghakimi perbedaan.
Jika semangat pembaharuan Abduh dihidupkan kembali, saya yakin wajah dakwah akan berubah menjadi lebih dialogis, toleran, dan cerdas.
Bagi saya, Muhammad Abduh adalah gambaran ulama yang seimbang antara tradisi dan modernitas. Ia tidak meninggalkan agama, tetapi juga tidak menutup pintu bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Kalimatnya tentang keselarasan Islam dan akal adalah warisan besar yang harus terus dijaga.
Islam tidak pernah bertentangan dengan akal sehat. Jika hari ini muncul pemahaman yang terlihat tidak logis dan memecah belah, maka yang perlu ditinjau bukan Islamnya, tetapi cara kita memahaminya. Inilah pesan besar yang saya pelajari dari Muhammad Abduh sebagai idola.
Semoga generasi muda Muslim mampu melanjutkan semangat ijtihad, berpikir terbuka, dan mencintai ilmu sebagaimana yang diinginkan Abduh.
