MENGAJAK IBADAH ANAK USIA DINI PADA BULAN RAMADHAN

 

ABSTRAK

Artikel ini membahas hubungan antara puasa Ramadhan dengan mengajak anak usia dini beribadah melalui pembentukan karakter positif. Tujuan artikel ini adalah untuk menggali makna dan menemukan pengaruh puasa dalam membentuk karakter seseorang. Metode deskriptif-analitis diterapkan dalam penelitian ini. Prosedur yang dilakukan adalah pengumpulan data, klasifikasi data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Sumber data diperoleh dari informasi yang tersedia dalam studi literatur. Data dianalisis dengan menggunakan metode analisis isi (content analysis), yaitu upaya untuk menggali makna simbolis dari pesan atau isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibadah puasa Ramadhan yang dilakukan umat Islam selama 29 atau 30 hari tidak hanya sebatas ritual saja, namun juga berkontribusi terhadap pembentukan karakter seseorang jika dilihat dari sudut pandang pendidikan karakter. Dapat disimpulkan bahwa puasa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membawa pengaruh positif terhadap pembentukan karakter seseorang. Karakter positif yang dibangun melalui puasa adalah kebiasaan menghargai waktu, menjaga hak orang lain, jujur dan sabar, serta kebiasaan memberi dan suka menolong.

Kata Kunci: Puasa Ramadhan, Karakter Positif, Ibadah

PENDAHULUAN

Dalam pasal 3 undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa pendidikan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan membentuk karakter dan peradaban manusia yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, terampil, kreatif, mandiri, demokratis, dan akuntabel. Melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 jelas bahwa selain pengembangan kompetensi, penciptaan karakter juga menjadi fokus utama dalam bidang pendidikan. Saat ini pembentukan karakter bangsa sangat diperlukan mengingat bangsa Indonesia merupakan bangsa yang agamis dan sangat menjunjung tinggi nilai moral dan adat istiadat. Oleh karena itu, pendidikan diharapkan tidak hanya mengembangkan kompetensi keilmuan peserta didik tetapi juga berupaya membentuk dan membangun karakternya. Pendidikan karakter merupakan suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter bagi peserta didik yang mencakup komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Allah, diri sendiri, tetangga, lingkungan, atau kebangsaan untuk memiliki harkat kemanusiaan yang tinggi. Dalam pendidikan karakter hendaknya semua pihak dilibatkan, sehingga lembaga pendidikan formal bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab dalam membentuk karakter bangsa, namun agama atau lembaga keagamaan pun turut berperan di dalamnya. Semua agama yang ada di muka bumi ini termasuk agama Islam mempunyai ajaran mengenai ritual ibadah sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Patut dicermati bahwa ajaran tentang ritual ibadah tidak hanya sebatas bentuk ibadah kepada Allah SWT, namun juga mempunyai nilai pendidikan secara spiritual dan pendidikan karakter yang dapat dirasakan oleh orang yang menyelenggarakannya. Begitu pula dengan puasa, di dalamnya terkandung pendidikan karakter yang komprehensif. Puasa yang dilakukan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh akan mampu membentuk kemampuan kognitif, afektif, dan konatif.

Kemampuan kognitif diwujudkan dalam pengetahuan dan cara berpikir sesuai kaidah dan norma Islam. Kemudian, kemampuan afektif terwujud dalam memahami ajaran sehingga masyarakat mampu mengelola emosi dan empati yang tinggi terhadap lingkungan. Terakhir, kemampuan konatif tampak pada perilaku beramal yang menyenangkan dan bermanfaat bagi orang sekitar. Karakter-karakter tersebut hanya bisa dicapai bila pria tersebut sungguh-sungguh berpuasa. Berdasarkan latar belakang masalah seperti yang telah diuraikan di atas, maka pokok permasalahan dalam artikel ini adalah “Bagaimanakah karakter positif yang terbentuk dalam puasa Ramadhan?”. Dari pokok permasalahan tersebut dapat digali beberapa pertanyaan seperti apa itu puasa, bagaimana puasa Ramadhan membentuk karakter seseorang, apa nilai-nilai karakter yang dihasilkan dari puasa tersebut. Oleh karena itu, tujuan artikel ini adalah untuk menggali pengertian puasa. , menemukan pengaruh puasa dalam membentuk karakter seseorang dan menemukan nilai-nilai karakter positif yang terbentuk dari pelaksanaan puasa.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dan analitis. Dalam hal ini berarti peneliti membuat uraian yang sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta, ciri-ciri dan hubungan antara fenomena yang diselidiki (Nazir, 2005). Kemudian fakta atau fenomena tersebut dianalisis dengan prosedur sebagai berikut: pengumpulan data, klasifikasi data, analisis data dan penarikan kesimpulan. Sumber data didasarkan pada informasi dalam studi literatur yang relevan dengan pembahasan. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif. Dilakukan melalui proses pengumpulan dan penyusunan data yang diperoleh dari hasil studi kepustakaan dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori-kategori, memilah-milah ke dalam satuan-satuan, melakukan sintesa, menyusun menjadi suatu pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dipelajari. sehingga akan mudah untuk dipahami. Analisis data juga dilakukan dengan metode analisis isi (content analysis), yaitu upaya menggali isi atau makna pesan simbolis suatu buku atau karya tulis lainnya. Metode ini mempunyai tiga syarat yaitu: objektivitas, sistematis dan generalisasi. Objektivitas didasarkan pada aturan yang dirumuskan secara eksplisit. Sistematika adalah pengkategorian isi dengan perlu menggunakan kriteria tertentu, sedangkan generalisasi berarti temuan yang diperoleh harus mempunyai kontribusi teoritis (Muhadjir, 1996)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Semua agama di muka bumi ini mempunyai ajaran tentang puasa. Secara bahasa puasa berarti menahan dan menghindarkan diri dari sesuatu hal, seperti menahan makan, minum, hawa nafsu, pembicaraan yang tidak berguna dan lain-lain (Rasjid, 2007). Dalam Islam mengacu pada firman Allah dalam surat Maryam ayat 26 yang artinya: “Sesungguhnya aku telah bersumpah kepada Yang Maha Pemurah untuk menahan diri dari berbicara; oleh karena itu, saya tidak boleh berbicara hari ini dengan manusia mana pun.” (QS. Maryam : 26). Kata “puasa” pada ayat ini berarti diam, mencegah dan menahan diri untuk berbicara. Sedangkan puasa secara bahasa sehari-hari artinya : menahan diri dari makan, minum dan berhubungan intim serta hal-hal yang dapat membatalkan puasa dalam jangka waktu tertentu dengan niat untuk beribadah kepada Allah (Sabiq, 2007). Dalam perspektif agama, puasa merupakan salah satu cara menyucikan jiwa dari sifat, watak, dan perilaku yang buruk menjadi sifat, watak, dan perilaku yang baik. Nafsu besar yang dapat menjadikan manusia menyimpang adalah kepuasan fisik baik berupa perut maupun kemaluan, sedangkan puasa merupakan kebiasaan yang dapat mengendalikan nafsu tersebut (Hawwa, 2007). Ada dua kategori puasa dalam Islam, yaitu puasa wajib dan puasa sunnah. Puasa wajib sebaiknya dilakukan oleh umat islam yang sudah dewasa dan sehat. Contohnya adalah puasa Ramadhan. Sedangkan puasa sunnah bisa dilakukan oleh umat Islam di luar bulan Ramadhan. Puasa sunnah telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad semasa hidupnya dan diikuti oleh umatnya. Contoh puasa sunnah adalah puasa 6 hari di bulan Syawal; puasa pada tanggal tertentu (9, 10) Muharram; puasa pada tanggal tertentu (9) Dzulhijjah; puasa pada tanggal tertentu (13, 14, 15) setiap bulannya; puasa pada hari Senin dan Kamis; dan puasa Nabi (Daud AS) yang terdiri dari satu hari puasa dan satu hari berbuka puasa. Puasa Ramadhan yang dilakukan umat Islam selama satu bulan Qomariah (berdasarkan siklus Bulan) dengan lamanya 29 atau 30 hari. Perhitungannya dimulai dari akhir bulan Syaban (bulan ke 8) dan diakhiri dengan masuknya bulan Syawal (Bulan 10). Bulan Ramadhan merupakan salah satu bulan istimewa menurut kepercayaan umat Islam. Dalam ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits, banyak teks yang berbicara tentang keistimewaan Ramadhan. Misalnya bulan yang diawali permulaan Al-Qur'an (QS 3:185), Malam Kekuasaan yang hadir lebih baik dari seribu bulan (al-QS Qodar ayat 1-5), bulan yang melipatgandakan pahala bagi yang ibadah, bulan kasih sayang dan ampunan, dan lain-lain.

Puasa Ramadhan diwajibkan oleh Allah SWT bagi umat Islam pada tahun kedua setelah Hijrah (peralihan) Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Jadi, kewajiban puasa Ramadhan dimulai ketika umat Islam telah berada di Madinah. Nabi Muhammad wafat pada tahun ke 11 Hijrah. Dengan demikian, diketahui bahwa semasa hidupnya Rasulullah hanya sempat melaksanakan puasa Ramadhan sekitar sembilan kali. Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan bagi umat Islam berdasarkan Firman Allah yang terkandung dalam surat Al-Baqarah ayat 183 artinya sebagai berikut: “Wahai orang-orang yang beriman! dihadapanmu agar kamu tetap bertakwa kepada Allah”. Kemudian berdasarkan Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori mempunyai makna sebagai berikut: Islam dibangun atas lima landasan: bersaksi bahwa tidak ada Allah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, shalat, membayar zakat. , puasa Ramadhan dan haji. Menurut Suma (2007), firman Allah SWT yang termuat dalam surat Al-Baqoroh ayat 183 dapat dipahami sebagai berikut: pertama, secara teologis orang yang dipanggil Allah untuk berpuasa adalah orang-orang yang beriman. Ungkapan “ya-ayyuhalladjina amanu” pada ayat 183 di atas mengisyaratkan hal itu. Dengan demikian, orang yang tidak beriman tidak termasuk dalam kelompok tersebut. Kedua, secara hukum, puasa Ramadhan adalah wajib. Ungkapan “kutiba alaikum Shiyyam” (wajibnya berpuasa) menandakan kepastian puasa ini. Seluruh umat Islam sepakat mengenai kewajiban menjalankan puasa Ramadhan. Ketiga, secara historis puasa mempunyai sejarah yang sangat panjang. Ungkapan “Kama kutiba a'lalladzina min qoblikum” (diwajibkan bagi orang-orang sebelum kamu) menunjukkan hal itu. Puasa mempunyai lika-liku sejarah yang sangat panjang. Terakhir, secara manajemen, puasa mempunyai tujuan konkrit yang membentuk manusia untuk menahan diri. Ungkapan “la’allakum tattaqun” (supaya kamu menjauhinya) jelas menunjukkan hal ini. Dengan kata lain, sasaran utama puasa adalah membuat manusia menahan diri. Menjadikan manusia bertakwa bukan hanya menjadi sasaran puasa, namun juga menjadi sasaran segala macam ibadah dalam Islam. Terlihat pada surat Al-Baqoroh ayat 21: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.”

Pendidikan Karakter mempunyai beberapa arti. Secara etimologis kata “karakter” berasal dari bahasa Yunani yaitu charassein yang berarti “mengukir” (Ryan & Bohlin, 1999). Kata “mengukir” berarti mengukir, melukis, atau meletakkan (Echols & Shadily, 1995). Sedangkan secara terminologi menurut Lickona (1992) karakter berarti “Karakter batin yang dapat diandalkan untuk menanggapi situasi secara moral”. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa karakter berkaitan dengan konsep moral (moral mengetahui), sikap moral (moral feeling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen tersebut, dapat dikatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan berbuat baik. Dalam kamus bahasa Indonesia, kata “watak” diartikan dengan kebiasaan, sifat kejiwaan, moral atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Karakter juga dapat berarti huruf, angka, spasi, simbol khusus yang dapat muncul di layar dengan keyboard (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008). Adapun karakter adalah kepribadian, tingkah laku, dan tingkah laku. Dalam bahasa Arab, akhlak dikenal dengan istilah “akhlaq”, yang merupakan jama’ dari kata “khuluqun” yang secara bahasa diartikan sebagai perangai, tingkah laku atau kebiasaan, tata krama, tata krama, dan perbuatan. Ibnu Miskawai (w. 421 H/1030 M) selaku ulama akhlaq terkemuka menyatakan bahwa akhlak adalah sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Dari pengertian tersebut dapat diambil beberapa ciri penting dari istilah akhlaq atau akhlak. Pertama, perbuatan yang telah tertanam kuat dalam diri seseorang sehingga menjadi suatu kepribadian. Kedua, dilakukan dengan mudah dan tanpa pemikiran sebelumnya. Ketiga, perbuatan yang timbul dari dalam diri orang yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Murni karena kemauan, pilihan, dan keputusan. Keempat, dilakukan dengan sungguh-sungguh, bukan sekedar gurauan atau akting. Terakhir, perbuatan itu dilakukan dengan ikhlas, hanya karena Allah SWT, bukan karena orang tersebut ingin mendapat pujian (Tanshzil, 2012).

Memiliki karakter yang baik tidak bisa diperoleh begitu saja ketika seseorang dilahirkan, melainkan memerlukan proses dan tahapan yang panjang dalam kehidupan. Salah satunya melalui pendidikan karakter (Tanshzil, 2012). Pendidikan karakter merupakan penanaman nilai-nilai karakter kepada masyarakat di sekolah. Mencakup komponen pengetahuan, kesadaran, atau kemauan, dan tindakan agar mampu mengimplementasikan nilai-nilai tersebut kepada Allah, diri sendiri, tetangga, lingkungan, atau bangsa untuk menjadi manusia sempurna (Samani & Hariyanto, 2013). Pendidikan karakter juga mengacu pada nilai pendidikan karena nilai adalah karakter dalam tindakan atau nilai-nilai yang diwujudkan dalam tindakan (Lickona, 1992). Karakter disebut juga dengan nilai operatif atau nilai-nilai yang diimplementasikan dalam tindakan (perilaku). Karakter terbentuk dari hasil internalisasi berbagai nilai kebajikan dan diyakini dapat dijadikan landasan dalam berpikir, berperilaku, dan bertindak. Keutamaan tersebut bersumber dari nilai-nilai yang diyakini sebagai kebenaran yang terwujud dalam hubungan-hubungan yang membangun interaksi antara manusia dengan Allahnya, sesama manusia, lingkungan hidup, masyarakat dan negara, serta dengan dirinya sendiri. Hubungan tersebut akan menimbulkan penilaian terhadap karakter seseorang. Oleh karena itu, pendidikan karakter berarti proses internalisasi, penyajian, penanaman dan pengembangan nilai-nilai baik pada diri peserta didik. Dengan menginternalisasikan nilai-nilai baik pada diri peserta didik, diharapkan mereka akan mempunyai perilaku yang baik. Dalam pendidikan karakter, peserta didik tidak sekedar diajarkan mana yang benar atau salah, tetapi mereka juga menumbuhkan kebiasaan baik dalam diri mereka, sehingga mereka memahami, merasakan, dan mau berbuat baik. Keteladanan dari para pendidik juga penting dalam membentuk karakter peserta didik. Perlu diketahui bahwa pendidikan karakter yang optimal tidak bisa hanya ditangani oleh satu pihak saja. Hal ini harus dilaksanakan secara menyeluruh oleh semua kalangan, mulai dari keluarga, masyarakat, sekolah hingga pemerintah.

Beribadah dalam Islam dekat dengan pembentukan akhlak atau akhlak. Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah yang berbunyi pada ayat 21: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” Dalam ayat ini Allah SWT menghubungkan hubungan antara ibadah dan sikap berkomitmen. Takwa artinya menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Allah menangani perbuatan baik; pelarangan itu berkaitan dengan perbuatan buruk. Jadi orang yang bertakwa adalah orang yang melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangannya. Menurut Nasution (1995), hal ini berkaitan dengan ajaran “amar ma’ruf nahi munkar”, yaitu mengajak manusia untuk berbuat baik dan menghindarkan diri dari perbuatan buruk. Orang yang bertakwa mempunyai keutamaan atau akhlak yang baik. Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menggambarkan akhlak yang shaleh. Dalam Al-Baqarah (2): 177, tentang akhlak yang shaleh seperti menepati janji, jujur, sabar. Selanjutnya dalam surat Ali Imran (3): 102-103 disebutkan bahwa akhlak yang shaleh adalah membina silaturahmi, bersyukur, menjaga diri. Selain itu, dalam surat Ali Imran (3): 133-135, menanamkan tanggung jawab sosial, pengendalian diri, pemaaf, kebaikan, taubat adalah akhlak yang shaleh. Kemudian dalam Al-Ahzab (33): 35, ketaatan, kejujuran, kesabaran, pengabdian, amal (kepedulian sosial), menjaga diri dan mengamalkan. Dalam ayat lain disebutkan bahwa ikhlas, rendah hati, peduli, tanggung jawab, amanah dan lain-lain merupakan akhlak yang shaleh.

Menjadi orang shaleh merupakan salah satu tujuan puasa sebagaimana tertulis dalam Al-Qur'an ayat Al-Baqoroh. 183. Oleh karena itu, ketika Allah mewajibkan manusia berpuasa, maka akan lahirlah karakter-karakter seperti tersebut di atas. Sebab, orang yang berpuasa dilatih untuk berbuat baik dan menghindari hal buruk. Latihan ini akan terlihat dalam pengendalian diri dari nafsu berbuat jahat. Orang yang berpuasa, menahan diri dari makan, minum dan syahwat pada waktu yang telah ditentukan. Kemudian, orang yang berpuasa juga akan menahan diri dari perilaku dan perbuatan buruk sehingga mendapat kekebalan untuk melakukan hal-hal buruk saat tidak berpuasa. Ini merupakan latihan spiritual yang akan mempertajam kesucian dan moralitas mereka (Ardani, 1995). Secara psikologi, jangka waktu puasa adalah selama 29 atau 30 hari untuk memberikan waktu bagi penanaman kebiasaan baik. Prosesnya tidak mudah. Al-Ghazali dalam bukunya memberikan gambaran bahwa jiwa manusia ibarat sebuah kerajaan. Nafsu ibarat tukang pajak yang selalu memaksakan kehendaknya. Kemarahan itu seperti polisi yang kasar dan sewenang-wenang. Intelijen adalah menteri yang membantu raja dalam menjalankan tugasnya, dan hati adalah raja yang mengendalikan segala proses di kerajaan. Jika hati dan rasionalitas mampu mengalahkan hawa nafsu, maka akan melahirkan karakter yang baik. Jika tidak, hawa nafsu akan membawa manusia pada sifat buruk. Bukankah korupsi terjadi karena hati nurani dikalahkan oleh keserakahan mengumpulkan kekayaan? Bukankah perselingkuhan terjadi karena rasionalitas dikalahkan oleh nafsu untuk mendapatkan kesenangan?. Puasa adalah melatih hati agar dapat melahirkan karakter yang positif (Hatmanto, 2009) Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, puasa berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang. Dari kajian yang telah dilakukan peneliti, ditemukan sekitar lima karakter positif yang dibangun melalui puasa di bulan Ramadhan. Lima karakter positif tersebut adalah: (1) kebiasaan menghargai waktu; (2) kebiasaan menjaga hak orang lain; (3) kebiasaan jujur; (4) kebiasaan bersabar; dan (5). Kebiasaan memberi dan menolong. Inilah lima kebiasaan positif penting yang dibentuk melalui pendidikan dan pelatihan intensif Ramadhan yang merupakan anugerah berharga di Ramadhan. Selanjutnya akan digali lima karakter positif yang terbentuk melalui pendidikan dan pelatihan di bulan Ramadhan.

Pertama, kebiasaan menghargai waktu. Misalnya seseorang memberi uang kepada seorang laki-laki sekitar Rp. 86.400 setiap hari dan dia harus membelanjakannya dalam satu hari. Jika masih ada sisa maka dianggap hangus dan tidak dapat dibelanjakan lagi. Kalau begitu, pria itu akan berusaha keras mengeluarkan semua uangnya. Itu sama dengan waktu. Jika Rp. 86.400 itulah yang diberikan Allah kepada manusia setiap harinya, apakah mereka akan melakukan hal yang sama?. Ternyata berbeda dengan perumpamaan tersebut. Manusia menyia-nyiakan 86.400 detik yang telah Allah berikan kepada mereka. Sebagai refleksi, jika dalam sehari seseorang menghabiskan satu jam untuk aktivitas yang tidak ada manfaatnya, sama saja dengan membuang 3.600 detik dalam sehari. Jika dikalikan satu bulan, maka ada kurang lebih 108.000 detik yang tidak dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Kalau setahun kira-kira 1.296.000 detik dan seterusnya. Itu hanyalah renungan sederhana, namun terkadang manusia tidak menyadarinya. Namun, Allah tidak memberikan semua itu tanpa perhitungan dan pertanggungjawaban. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa dua dari empat pertanyaan penting yang akan ditanyakan kepada manusia pada hari kiamat adalah tentang waktu seperti umur dan masa muda. Dalam hadits tersebut diriwayatkan oleh Muadh Ibnu Jabal Radi Allahu Anhu dan berkata: “Kedua kaki anak Adam tidak akan berpindah dari dekat Tuhannya pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang lima (masalah) tentang hidupnya. tentang bagaimana dia menafkahkannya; tentang masa mudanya - bagaimana dia memeliharanya; tentang kekayaannya - bagaimana dia memperolehnya; dan di mana dia menafkahkannya; dan tentang apa yang dia amalkan dari ilmu yang diperolehnya". -Tabaraani dan Bazzar). Padahal Islam sangat menaruh perhatian terhadap waktu. Banyak ayat Al-Qur'an dan Sunnah Nabi yang menyatakan pentingnya waktu dalam berbagai versi dan penggambaran. Contoh terkait pentingnya waktu Dalam Al-Qur'an Allah bersumpah akan menggunakannya sebagai awal surat Makkiyyah bahwa: berdasarkan waktu, pada malam ketika tertutup dan pada hari ketika muncul, pada fajar, dan pada sepuluh malam dan lain-lain. Inilah bukti-bukti perhatian umat islam terhadap waktu, lagipula jika manusia membaca Sira (riwayat hidup Nabi dan para sahabatnya), maka akan terlihat bahwa perhatian para sahabat terhadap waktu begitu besar melebihi perhatian mereka terhadap waktu. harta karun. Dengan demikian, mereka lebih rela kehilangan harta dibandingkan kehilangan waktu dan kesempatan. Ada pula cerita tentang seorang wanita yang sedang menikmati indahnya pemandangan taman miliknya, namun ia tidak menyadari bahwa Asar telah lewat. Menyadari hal itu, dia bertaubat kepada Allah dan menyumbangkan seluruh kebunnya untuk sedekah sebagai iqab (hukuman). Puasa merupakan shalat paling rahmat yang dilihat manusia, yang dapat mengembangkan kedisiplinan diri, rasa diawasi oleh Allah. Manusia akan sadar bahwa dirinya sedang diawasi oleh “kamera” Ilahi dan tajam, sehingga mereka akan menahan diri dari bujukan dan hawa nafsu setan. Pendidikan kedisiplinan dalam berpuasa meliputi disiplin menunaikan kewajiban dan menjalankan perintah sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam AlBaqoroh ayat 183 (Kutiba 'alaikumusshiyam). Disiplin waktu adalah berbuka pada waktu yang tepat, dan disiplin jasmani dan hukum adalah menahan diri untuk tidak makan, minum, dan bercinta dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Kedua, kebiasaan menjaga hak orang lain. Dalam Khutbatul Wada (khutbah perpisahan haji), nabi berpesan agar umat Islam menjaga nyawa, darah, harta dan kehormatan satu sama lain. Setiap umat Islam dilarang membunuh, menyakiti, menindas, menghina dan merampas harta umat Islam lainnya. Islam mengajarkan bahwa siapa yang mengucapkan dua kalimat tentang pengakuan kebenaran, maka orang tersebut akan mendapat keamanan dan pembelaan dari kaum muslimin. Dalam surat Al-Hujurat 49:10. Allah SWT berfirman: “Orang-orang beriman hanyalah bersaudara.” Pada ayat 11 dan 12 Allah SWT menguraikan tentang akhlak yang harus dilakukan umat Islam terhadap saudaranya agar terjalin persatuan dan persaudaraan, misalnya tidak mencemooh, tidak mencela, tidak menggunjing, tidak mencari-cari kesalahan, dan tidak berprasangka buruk. Nabi bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka ia tidak boleh menindasnya, dan tidak pula menyerahkannya kepada penindas. Barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya; barangsiapa yang mengeluarkan saudaranya (Muslim) dari suatu kesusahan, maka Allah akan mengeluarkannya dari kesusahan pada hari kiamat, dan barang siapa yang menyaring seorang muslim, maka Allah akan menyaringnya pada hari kiamat”. (Al-Bukhari, 2442). Dalam hadis lain Nabi bersabda: “Seorang muslim adalah saudara seorang muslim, ia tidak menipu, membohonginya, dan tidak membohonginya. Segala sesuatu yang dimiliki seorang muslim haram terhadap muslim lainnya: kehormatannya, hartanya, dan darahnya. At-taqwa ada di sini. Cukuplah jahat bagi seorang laki-laki jika dia meremehkan saudaranya yang Muslim”. (At-Tirmidzi, 1927). Dalam kesempatan lain Nabi Muhammad juga bersabda bahwa Ikhwanul Muslimin ibarat bangunan yang saling menguatkan.

KESIMPULAN

Puasa Ramadhan yang dilakukan umat Islam selama 29 atau 30 hari tidak hanya sebatas ritual ibadah saja. Jika dilihat dari sudut pandang pendidikan, puasa Ramadhan dapat berperan dalam pembentukan karakter seseorang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa puasa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan mempengaruhi terbentuknya karakter positif pada seseorang. Karakter positif yang dikembangkan melalui puasa adalah kebiasaan menghargai waktu, kebiasaan menjaga hak orang lain, kebiasaan jujur, kebiasaan bersabar, dan kebiasaan memberi dan menolong. Kepedulian sosial yang telah dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan di bulan Ramadhan hendaknya terus dilestarikan selama sebelas bulan ke depan dengan selalu membantu masyarakat yang membutuhkan. Jika umat Islam menyisihkan 2,5 persen dari gajinya, maka dana sosial tersebut dapat berupa zakat (pembersih harta dan jiwa), sadaqah (bukti keimanan), infaq (sedekah sosial) kepada masyarakat dan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Ardani, M. (1995). Al Qur'an dan sufisme Mangkunagara empat. Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf.

Echols, J. M., & Shadily, H. (1995). Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Hatmanto, E. D. (2009). Puasa sebagai pendidikan karakter. Harian Bernas

Hawwa, S. (2007). Tazkiyatun Nafs: Intisari Ihya Ulumuddin. Jakarta: Pena Pundi Aksara.

Lickona, T. (1992). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility. New York: Bantam Books.

Muhadjir, N. (1996). Metode penelitian kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin.

Nasution, H. (1995). Islam rasional: Gagasan dan pemikiran. Jakarta: Mizan. Nazir, M. (2005). Metode penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.

Rasjid, S. (2007). Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Republik Indonesia. (2003). Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.

Ryan, K., & Bohlin, K. E. (1999). Building character in schools:Practical ways to bring moral instruction to life. San Francisco: Jossey-Bass.

Sabiq, S. (2007). Fiqh As-Sunnah. Jakarta: Pena Pundi Aksara.

Samani, M., & Hariyanto. (2013). Konsep dan model pendidikan karakter. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Suma, M. A. (2007). Lima pilar Islam: membentuk pribadi tangguh membentuk pribadi tangguh. Jakarta: Kholom Publishing.

Penulis : Ayu Andhira Safitri (1215230123)

STAI Natuna---Program Studi PIAUD

Dosen Pengampu Renawati, M.Pd

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama