PROSES BELAJAR PUASA ANAK USIA DINI

 


ABSTRAK

Selama bulan Ramadhan, wajib bagi semua umat Islam yang sehat dan waras yang telah mencapai pubertas untuk tidak makan dan minum sepanjang siang hari. Perubahan pola makan dan hidrasi berdampak buruk terhadap aktivitas manusia termasuk anak usia dini. Oleh karena itu, para pelatih dan ilmuwan olahraga telah mengembangkan strategi untuk menjelaskan proses puasa Ramadhan yang baik untuk anak usia dini dengan menerapkan tiga prinsip latihan, yaitu i) prinsip FITT (Frekuensi, Intensitas, Waktu dan Jenis), ii) beban berlebih progresif, dan iii) pemulihan. Penelitian telah menunjukkan bahwa puasa Ramadhan menyebabkan efek baik pada beberapa hasil fisiologis seperti kekuatan anaerobik, kekuatan aerobik maksimal, kekuatan otot dan daya tahan. Selain itu, pengurangan aktivitas berat sebelum atau selama bulan Ramadhan akan mengakibatkan penurunan performa fisik anak usia dini yang terlatih. Adaptasi prinsip latihan akan memungkinkan anak usia dini mempertahankan performa latihan saat berpuasa dan mencapai tujuan latihannya. Tulisan ini merupakan tulisan orisinal yang bertujuan untuk mengelaborasi prinsip-prinsip latihan dan bagaimana pengaruhnya dalam menjaga kinerja latihan sepanjang bulan Ramadhan.

Kata Kunci: Pendidikan; Agama; Penciptaan

PENDAHULUAN

Dalam agama Islam, puasa Ramadhan adalah wajib bagi semua umat Islam yang sehat dan waras yang telah mencapai pubertas. Wajib bagi umat Islam kecuali bagi mereka yang memiliki kondisi medis. Pada bulan ini, umat Islam berpantang makan, minum, dan berhubungan intim mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Oleh karena itu, umat Islam diharuskan mengubah waktu makannya menjadi pagi hari yang disebut “sahur”, dan setelah matahari terbenam yang disebut “buka puasa”. Perubahan pada waktu makan ini mungkin menurunkan kualitas tidur, dan hal ini dapat menimbulkan implikasi signifikan terhadap latihan fisik dan kinerja. Selain itu, kekurangan makanan dan cairan dalam jangka waktu lama sering kali menyebabkan dehidrasi dan rendahnya cadangan karbohidrat yang dapat memengaruhi performa olahraga seseorang. Misalnya, Zerguini dkk. , menemukan bahwa puasa Ramadhan berdampak buruk pada kecepatan, ketangkasan, kecepatan menggiring bola, dan daya tahan para pemain sepak bola. Selain itu, puasa Ramadhan juga terbukti menurunkan kekuatan dan daya tahan otot, performa olahraga intensitas tinggi, tenaga anaerobik, dan tenaga aerobik yang maksimal. Oleh karena itu, para pelatih dan ilmuwan olahraga telah mengembangkan strategi untuk melawan dampak puasa Ramadhan dengan menyesuaikan waktu latihan dan intensitas latihan secara keseluruhan.

METODE PENELITIAN

Pada penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Menurut Sukmadinata (2009), metode kualitatif adalah penelitian untuk mendiskripsikan dan menganalsis tentang fenomena, peristiwa, kepercayaan, sikap, dan aktivitas sosial secara individual maupun kelompok. Metode kualitatif merupakan kumpulan metode untuk menganalisis dan memahami lebih dalam mengenai makna beberapa individu maupun kelompok dianggap sebagai masalah kemanusiaan atau masalah sosial Creswell (2015). Penelitian kualitatif ini menggunakan metode penelitian eksplorasi, eksplorasi merupakan jenis penelitian awal dari suatu penelitian yang sifatnya sangat luas. Dalam penelitian eksplorasi menjadi sangat penting dikarenakan akan menghasilkan landasan yang kuat bagi penelitian selanjutnya. Yusuf, (2004) mengemukakan tujuan penelitian eksplorasi merupakan tujuan untuk mendapatkan ide-ide mengenai permasalahan pokok secara lebih terperinci maupun untuk mengembangkan hipotesis yang ada. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan peneltian kualitatif untuk dapat memahami fenomena dalam konteks sosial secara alamiah yang menggambarkan permasalahan sosial pada seseorang mengenai sudut pandang perilaku. Dalam penelitian kualitatif peneliti menganalisis dan setelah itu melaporkan fenomena dalam suatu hasil analisa dalam penelitian.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Adaptasi pelatihan          

Bagi anak yang berlatih pada tingkat tertinggi selama bulan Ramadhan, menyatakan bahwa anak tidak akan mengalami dampak merugikan yang besar pada performa anakik selama puasa jika mereka mempertahankan tingkat energi total melalui asupan makronutrien yang memadai; asupan cairan yang cukup; tidur yang cukup dan beradaptasi dengan beban latihan selama berpuasa. Adaptasi latihan merupakan sebuah konsep yang sering menjadi pertimbangan para pelatih dalam merencanakan dan melaksanakan suatu program latihan dimana prinsip FITT (Frekuensi, Intensitas, Waktu dan Jenis) dan prinsip beban berlebih progresif biasa digunakan untuk menyesuaikan rezim latihan untuk mencapai tujuan tertentu ( s) . Dalam hal latihan selama puasa Ramadhan, tujuan utamanya adalah pemeliharaan, bukan kemajuan, sehingga anak dapat mempertahankan ekspektasinya dan mencapai tujuan yang lebih realistis. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa hampir 70% dari 55 pemain sepak bola profesional Aljazair merasa bahwa kualitas latihan mereka terkena dampak buruk dari puasa Ramadhan, meskipun tidak jelas aspek mana dari kualitas latihan pemain yang terpengaruh. Untuk mendukung temuan ini, survei investigasi skala besar (n=900) dilakukan pada anak nasional tingkat Junior dan Senior. Studi ini menemukan bahwa tiga puluh persen dari mereka yang ditanyai menganggap bahwa sesi latihan mereka dipengaruhi oleh puasa Ramadhan. Bagian dari anak yang disurvei ini menyatakan lebih lanjut bahwa mereka merasa bahwa semua aspek variabel pelatihan (yaitu frekuensi, durasi dan intensitas) terkena dampak buruk. Oleh karena itu, penyesuaian prinsip FITT dapat mengurangi persepsi negatif puasa Ramadhan dalam latihan serta membekali anak secara fisik dengan metodologi latihan yang dapat dipertahankan sepanjang bulan puasa.

B. Prinsip FITT

Prinsip FITT dibagi menjadi empat komponen berdasarkan akronimnya; frekuensi, intensitas, waktu dan jenis. Frekuensi adalah jumlah sesi pelatihan yang dilakukan per minggu. Intensitas mengacu pada jumlah usaha atau kerja yang dilakukan dalam setiap sesi latihan dan sering kali diukur dalam persentase detak jantung maksimal dan tenaga yang dirasakan. Waktu adalah durasi setiap sesi latihan. Sedangkan tipenya adalah jenis latihan yang akan dilakukan pada saat sesi latihan. Poin kunci dalam menerapkan program kebugaran adalah menetapkan tujuan yang realistis. Jenis latihan dapat ditentukan oleh tujuan spesifik yang ditetapkan oleh pelatih (yaitu daya tahan kardiovaskular, latihan kekuatan, ketangkasan atau keseimbangan dan koordinasi). Selama puasa Ramadhan, frekuensi, intensitas dan durasi harus dikurangi agar anak dapat menjalani rutinitas latihan. Akibat kurangnya cadangan karbohidrat dan hidrasi selama puasa, performa latihan menjadi di bawah standar sehingga menurunkan motivasi para anak karena tidak mampu mencapai tujuan latihan sebelum puasa. Disarankan bagi anak untuk tidak meningkatkan rutinitas latihannya (peningkatan beban, set, repetisi, kecepatan atau jarak) selama bulan Ramadhan, melainkan mempertahankan kemajuannya di bulan sebelumnya. Menempatkan tujuan FITT yang realistis dapat menjaga kepatuhan dan motivasi terus menerus sepanjang bulan ini. Berdasarkan prinsip ini, beban latihan dapat dimodifikasi untuk mempertahankan tingkat energi dan selanjutnya memanfaatkannya untuk mencapai sesi latihan yang efektif.

C. Progressive Overload

Selain prinsip FITT, beban progresif pada latihan submaksimal telah terbukti meningkatkan kinerja daya tahan selama puasa Ramadhan [20]. Prinsip kelebihan beban progresif hanyalah perkembangan beban latihan dari waktu ke waktu. Hal ini diketahui dapat meningkatkan hasil pelatihan. Oleh karena itu, anak harus terus bekerja lebih keras untuk menyesuaikan tubuhnya dengan latihan yang ada karena adanya adaptasi metabolisme dan fisik pada tubuhnya. Prinsip pelatihan beban berlebih progresif bertujuan untuk menstimulasi adaptasi yang berkelanjutan dan terdiri dari peningkatan beban pelatihan secara progresif seiring waktu, terutama dengan memodifikasi volume dan intensitas pelatihan. Namun, pengurangan beban latihan sebelum dan selama bulan Ramadhan mengakibatkan kinerja fisik yang lebih buruk pada anak yang terlatih . Untuk mengurangi penurunan performa, beban latihan seorang anak harus diatur ulang ke nilai minimum selama minggu pertama Ramadhan dan kemudian ditingkatkan secara bertahap sepanjang bulan tersebut hingga beban latihannya sesuai dengan periode pra-Ramadhan anak pada minggu terakhir Ramadhan (Tabel 1 ). Selain itu, gangguan paling signifikan akibat puasa Ramadhan dilaporkan terjadi pada minggu pertama Ramadhan . Oleh karena itu setidaknya dua minggu sebelum dimulainya Ramadhan, strategi penanggulangan yang tepat harus diperkenalkan secara bertahap. Baik prinsip FITT maupun prinsip beban progresif digabungkan untuk membentuk sistem pelatihan yang efektif sepanjang bulan puasa Ramadhan.

Tabel 1 Contoh FITT dan prinsip beban berlebih progresif selama puasa Ramadhan

Periode puasa

Beban pelatihan

(volume)

Intensitas

Perubahan dilakukan

Ramadhan awal

2-3 jam, 5x/minggu

60-90% rata-rata maksimal detak jantung

Tidak berubah

Minggu pertama

1-2 jam, 3x/minggu

60-70% rata-rata maksimal detak jantung

Minimal

(nilai awal)

Minggu kedua

1-2 jam, 3x/minggu

60-80% rata-rata maksimal detak jantung

Tingkatkan intensitasnya sebesar 10%.

Minggu ketiga

2-3 jam, 3x/minggu

60-90% rata-rata maksimal detak jantung

Meningkatkan durasi dan

Intensitasnya 10-20%.

Minggu keempat

2-3 jam, 5x/minggu

60-90% rata-rata maksimal detak jantung

Tingkatkan frekuensi pelatihan per

pekan

 

D. Pemulihan

Karena umat Islam berpuasa sepanjang hari, pelatih cenderung mengatur waktu latihannya dua hingga tiga jam setelah berbuka sekaligus mengurangi volume Latihan. Alternatifnya, anak bangun dua hingga tiga jam sebelum sahur untuk berlatih dan kemudian berpuasa sepanjang hari. Waktu latihan pagi hari lebih mudah untuk olahraga yang lebih individual karena memerlukan komitmen lebih dari anak. Sedangkan latihan malam hari lebih cocok untuk olahraga tim karena lebih banyak pemain yang bisa mengikuti jadwal latihan. Selain itu, latihan intensitas rendah yang berfokus pada teknis dan latihan ringan sebelum berbuka puasa adalah tema umum di kalangan umat Islam karena mereka dapat dengan cepat melakukan rehidrasi dan mengisi kembali simpanan glikogen mereka setelah sesi latihan . Penelitian telah menunjukkan bahwa latihan sore selama bulan Ramadhan mungkin lebih efektif daripada latihan pagi atau malam untuk meningkatkan kapasitas aerobik pada anak yang terlatih dengan daya tahan. Selain itu, sebuah penelitian yang menyelidiki dua rentang waktu latihan yang berbeda selama puasa Ramadhan untuk olahraga (bola voli, karate, taekwondo, dan sepak bola) menyimpulkan bahwa latihan siang atau malam tidak berbanding terbalik dengan kinerja kelincahan dan kekuatan anak selama puasa Ramadhan. Oleh karena itu, pelatihan teknis yang berfokus pada teknik dan pengembangan keterampilan ditekankan pada siang hari agar sesi pelatihan tersebar secara efektif dan memberikan lebih banyak waktu untuk pemulihan (Tabel 2,3).

Tabel 2: Contoh program Latihan puasa pada pagi hari

Time

Aktivitas

Intensitas

Perbandingan

3.00am - 5.00am

Sesi pelatihan

(Pertunjukan utama)

60-90% detak jantung maksimal

2:1 to 1:1

5.00am - 5.45am

Sahur

(Sarapan berat)

 

 

6.00am - 5.00pm

Aktivitas sehari-hari

(Puasa)

 

 

5.00pm - 7.00pm

Sesi pelatihan

(Membangun keterampilan)

50-70% detak jantung maksimal

1:1 to 1:2

7.00pm - 8.00pm

Istirahat & berbuka puasa

(Makan malam berat)

 

 

8.00pm - 3.00am

Masa pemulihan

(Tidur & istirahat)

 

 

 

Mempertimbangkan pengetahuan tersebut, banyak pelatih yang merencanakan program pelatihan komprehensif bagi anaknya untuk beradaptasi dengan tantangan yang dihadapi selama bulan ini. Penelitian saat ini mendukung temuan bahwa individu yang menjaga energi total, asupan makronutrien, beban latihan, komposisi tubuh, tidur dan kualitas lamanya tidak akan mengalami efek merugikan yang signifikan terhadap kinerja anakik selama puasa Ramadhan. Pada dasarnya, jadwal latihan dirancang untuk memaksimalkan pemulihan tenaga anak.

Tabel 3: Contoh program Latihan puasa pada malam hari

Time

Aktivitas

Intensitas

Perbandingan

5.00am - 5.45am

Sahur

(Sarapan berat)

 

 

5.45am - 5.00pm

Aktivitas sehari-hari

(Puasa)

 

 

5.00pm - 7.00pm

Sesi pelatihan

(Membangun keterampilan)

50-70% detak jantung maksimal

1:1 to 1:2

7.00pm - 8.00pm

Istirahat & berbuka puasa

(Makan malam berat)

60-90% detak jantung maksimal

2:1 to 1:1

8.00pm - 10.00pm

Masa pemulihan

(Tidur & istirahat)

 

 

 

Singkatnya, FITT ialah prinsip kelebihan beban progresif dan pemulihan memainkan peran integral dalam memaksimalkan kinerja pelatihan dan mengurangi dampak buruk selama puasa Ramadhan. Prinsip-prinsip lain termasuk kekhususan, individualitas, dan reversibilitas juga penting ketika mempertimbangkan pembuatan rezim pelatihan, terlebih lagi ketika anak diharuskan mengatasi dan beradaptasi dengan kelaparan dan hidrasi yang tidak memadai. Selain itu, strategi coping seperti menjaga beban karbohidrat saat sahur dan berbuka, menjaga hidrasi serta mendapatkan kualitas tidur yang cukup dapat semakin meningkatkan kemampuan anak dalam berlatih dan mencapai tujuan latihan secara terus menerus. Penelitian selanjutnya mungkin menggabungkan pendekatan holistik mengenai semua prinsip pelatihan yang ada untuk mendapatkan struktur yang lebih komprehensif dalam melaksanakan program pelatihan selama bulan puasa Ramadhan.

KESIMPULAN

FITT ialah prinsip kelebihan beban progresif dan pemulihan memainkan peran integral dalam memaksimalkan kinerja pelatihan dan mengurangi dampak buruk selama puasa Ramadhan. Prinsip-prinsip lain termasuk kekhususan, individualitas, dan reversibilitas juga penting ketika mempertimbangkan pembuatan rezim pelatihan, terlebih lagi ketika anak diharuskan mengatasi dan beradaptasi dengan kelaparan dan hidrasi yang tidak memadai. Selain itu, strategi coping seperti menjaga beban karbohidrat saat sahur dan berbuka, menjaga hidrasi serta mendapatkan kualitas tidur yang cukup dapat semakin meningkatkan kemampuan anak dalam berlatih dan mencapai tujuan latihan secara terus menerus.

            Oleh karena itu, anak harus terus bekerja lebih keras untuk menyesuaikan tubuhnya dengan latihan yang ada karena adanya adaptasi metabolisme dan fisik pada tubuhnya. Prinsip pelatihan beban berlebih progresif bertujuan untuk menstimulasi adaptasi yang berkelanjutan dan terdiri dari peningkatan beban pelatihan secara progresif seiring waktu, terutama dengan memodifikasi volume dan intensitas pelatihan. Namun, pengurangan beban latihan sebelum dan selama bulan Ramadhan mengakibatkan kinerja fisik yang lebih buruk pada anak yang terlatih . Untuk mengurangi penurunan performa, beban latihan seorang anak harus diatur ulang ke nilai minimum selama minggu pertama Ramadhan dan kemudian ditingkatkan secara bertahap sepanjang bulan tersebut hingga beban latihannya sesuai dengan periode pra-Ramadhan anak pada minggu terakhir Ramadhan.

DAFTAR PUSTAKA

1.     Hassanein M, Al-Arouj M, Hamdy O, et al. 2017. Diabetes and Ramadan: Practical guidelines. Diabetes Res Clin Pract.     126:            303-316.Ref.: https://bit.ly/2SlnDmE

2.     Waterhouse J. 2010. Effects of Ramadan on physical performance: chronological considerations. British Journal of Sports Medicine. 44: 509- 515. Ref.: https://bit.ly/2AdBzbr

3.     Hammouda O, Chtourou H, Aloui A, et al. 2013. Concomitant effects of Ramadan fasting and time-of-day on apolipoprotein AI, B, Lp-a and homocysteine responses during aerobic exercise in Tunisian soccer players. PLoS One. 8: 79873. Ref.: https://bit.ly/2SnPhQ8

4.     Ramadan J. 2002. Does fasting during Ramadan alter body composition, blood constituents and physical performance? Medical Principles and Practice. 11: 41-46. Ref.: https://bit.ly/2LzxQcq

5.     Zerguini Y, Kirkendall D, Junge A, et al. 2007. Impact of Ramadan on physical performance in professional soccer players. British Journal of Sports Medicine. 41: 398-400. Ref.: https://bit.ly/2CxpaRa

6.     Bigard X, Bousiff M, Chalabi H, et al. 1998. Alterations in muscular performance and orthostatic tolerance during Ramadan. Aviation, Space, and Environmental Medicine. 69: 341-346. Ref.: https://bit.ly/2Q1P1Ea

7.     Aziz AR, Wahid MF, Png W, et al. 2010. Effects of Ramadan fasting on 60 min of endurance running performance in moderately trained men. Journal of Sport Medicine. 44: 516-521. Ref.: https://bit.ly/2GQgg5B

8.     Aziz AR, Slater GJ, Chia MYH, et al. 2012. Effects of Ramadan fasting on training induced adaptations to a seven- week high-intensity interval exercise programme. Science & Sports. 27: 31-38. Ref.: https://bit.ly/2GDwC1e

9.     Ben-Salama F, Hsairi M, Belaid J, et al. 1993. Food intake and energy expenditure in high school athletes, before, during and after the month of Ramadan: effect of fasting on performances. La Tunisie Medicale. 71, 85-89. Ref.: https://bit.ly/2AdCf0t

10.  Faye J, Fall A, Badji L, Cisse F, et al. 2005. Effects of Ramadan fast on weight, performance and glycemia during training for resistance. Dakar Medical. 71: 85-89. Ref.: https://bit.ly/2GEdDUh

11.  Stannard SR, Thompson MW. 2008. The effect of participation in Ramadan on substrate selection during submaximal cycling exercise. Journal of Sports and Medicine in Sport. 11: 510-517. Ref.: https://bit.ly/2Cwj5nP

12.  Chennaoui M, Desgorces F, Drogou C, et al. 2009. Effects of Ramadan fasting on physical performance and metabolic,   hormonal,            and inflammatory parameters in middle- distance runners. Applied Physiology,Nutrition and Metabolism. 34: 587- 594. Ref.: https://bit.ly/2V50DKo

13.  Chaouachi A, Leiper JB, Chtourou H, et al. 2012. The effects of Ramadan intermittent fasting on athletic performance: Recommendations for the maintenance of physical fitness. Journal of Sports Science. 30: 53-73. Ref.: https://bit.ly/2T6b0fe

      Penulis : Zainab Mukaromah (1215230144)

STAI Natuna---Program Studi PIAUD

Dosen Pengampu Renawati, M.Pd










f


h

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama