TANTANGAN DAKWAH DI ERA MILENIAL

    Masa sekarang ini adalah masa yang sangat istimewa di mana semua orang bisa mendapatkan dan mengerjakan sesuatu dengan sangat mudah. Mungkin di zaman sebelum penemuan media elektrnonik, orang tersebut memerlukan berbagai kitab atau buku bacaan , tetapi di era mellineal semua informasi bisa didapatkan dengan sangat mudah, melalui internet. Perubahan globalisasi sangat pesat menuntut orang tidak mesti menguasai referensi berupa buku.Tetapi beralih bagaimana mereka bisa mengesuai tekhnologi for and zero Sedangkan di era Millenial, digital merupakan kebutuhan yang utama , orang tinggal mencari sesuatu yang diinginkan di salah satu situs internet. Era millennial ini adalah puncak dimana semuanya yang serba instan dan banyak dinikmati oleh masyarakat.

      Sekarang da`i (mubaligh) pun dituntuk untuk menguasai Semua informasi yang diperlukan akan muncul dengan berbagai model. media tekhnologi agar sasaran dakwah bisa sampai kepada khalayak banyak dengan mudah. Berdakwah atau menyampaikan dakwahnya melalui media-media yang ada seperti berdakwah dengan media televisi, media social yang diapload melalui hand phon/ gedget dan juga media tulisan. Realitas yang ada banyak sekali da`i yang sudah memanfaatkannya terutama dalam pertelevisian. Dan media social serta internet, terkadang terfikirkan ternyata tidak hanya artis saja yang ingin viral dimedia social atau di internet, bahkan para da`i pun juga banyak, hingga menjamur dimana-mana. Efek positifnya ketika bertujuan untuk menegakkan ajaran, dan syariatnya tetapi apakah itu saja kenyataannya.

    “Dakwah di era milenial memiliki tantangan sekaligus peluang. Generasi milenial merupakan sebutan generasi yang lahir rentang tahun 1980 hingga saat ini, dimana mereka lahir pada arus revolusi teknologi informasi yang jumlahnya cukup besar bahwa strategi yang diperlukan adalah; Dengan membangun kesadaran beragama, menguasai peta dakwah dan dakwah bil Medsos.

“Dakwah bil  Medsos adalah hajat (kebutuhan), bahkan dalam konteks tertentu untuk kesempurnaan dakwah yang rahmatal lil ‘alamin adalah wajib,” tegasnya.

“Tantangan dakwah di era milenial ini, penceramah harus;

1). Menggunakan bahasa agama yang sesuai dengan generasi milenial, tapi tidak melanggar norma; 

2). Menggunakan referensi yang valid (bukan katanya); 

3). Menggunakan dalil agama yang sahih; 

4). Tidak boleh ada kesalahan; 

5). Menguasai sumber rujukan yang komprehensif karena milenial suka mengecek referensi di search engine; 

6). Konsisten antara perkataan dan perbuatan; dan 

7). Menguasai aplikasi chek fakta.

Strategi sendiri berarti seni memimpin pasukan atau rancangan dan ketentuan yang dibuat untuk mencapai tujuan tertentu secara efektif dan efisien. Dalam materinya, saat ini penyebaran informasi ataupun proses dakwah tidak hanya disampaikan secara langsung, namun juga bisa menggunakan jejaring sosial media seperti youtube, instagram, tiktok, facebook dan yang lainnya.
Urgensi strategi dakwah sendiri di era ini ialah membangun kesadaran beragama dan perlu menguasai peta dakwah dan perlu paham serta mampu melaksanakan dakwah melalui sosial media. Dalam proses penyampaiannya, pendakwah perlu memperhatikan beberapa asas, yaitu asas filosofi (tujuan yang hendak dicapai), asas kemampuan dan keahlian (berdasarkan latar belakang pendakwah), asas sosiologi (kaitan satu masalah dengan situasi lain), asas psikologi (hal yang disenangi).
 yang menjadi tantangan dakwah di era milenial ialah pendakwah harus mampu menggunakan bahasa agama sebagai generasi milenial namun tidak melanggar norma, menggunakan referensi dakwah yang valid serta dalil yang sahih, menguasai sumber rujukan yang komperhensif karena kaum milenial sangat kritis dan sering melakukan pengecekan data melalui search engine yang tersedia. Selain itu, pendakwah juga dituntut konsisten antara perkataan dan perbuatan serta menguasai aplikasi jejaring sosial media.
Pada masa globalisasi yang sangat gencar akan perkembangan digital dan teknologi ini, seluruh lapisan yang berkenaan dengan penyampai informasi kepada ummat tidak dapat menutup mata akan kondisi yang semakin dinamis ini. Sudah sewajarnya pendakwah turut andil dalam memanfaatkan saluran social media dalam menyampaikan konten dakwahnya. Karena tidak dapat dipungkiri, perhatian masyarakat milenial saat ini lebih kepada saluran jejaring sosial, di mana mereka bisa dengan cepat mengakses informasi meskipun kadang abai dengan nilai kebenaran di dalamnya.

dan dinatuna  sudah banyak berdirinya masjid-masjid besar, dan banyak juga kegiatan-kegiatan dakwah lainnya, yang sangat bermanfaat bagi umat isalam dinatuna. Natuna adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.  Yang ibukotanya adalah Ranai. Natuna merupakan kepulauan paling utara di selat Karimatan. Di sebelah utara, Natuna berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja, di selatan berbatasan dengan Sumatera Selatan dan Jambi, di bagian barat dengan Singapura, Malaysia Barat, Riau dan di bagian timur dengan  Kalimantan Barat dan Malaysia Timur.

Dakwah merupakan suatu kewajiban bagi umat muslim, akan berdampak buruk bagi masyarakat Natuna jika dakwah kedepannya tidak di prioritaskan. Kemaksiatan akan semakin meraja rela dan kesadaran beribadah kepada Allah perlahan hilang. Semoga kedepannya dakwah akan terus berkembang di Natuna dengan berbagai metode yang bervariasi yang akan membangkitkan semangat masyarakat beribadah kepada Allah Swt.  Dan diera milenial sekarang sangat lah susah jika menyebarkan dakwah kalaw hanya dalam bentuk pertemuan, dan sebaiknya untuk jaman sekarang itu harus mengikuti zaman yang canggih , dakwah bisa juga disebarkan dalam sebuah media sosial seperti, tiktok, instagram, fecbook, twitter, dan DLL. Seperti mrngunggah vidio tentang dakwah, dan tulisan- tuliansan ceramah yang bisa dibaca khlayak ramai.

"Rimey Anggefa"

Komunikasi dan Penyiaran Islam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama