Bercermin pada kisah sejarah dakwah yang dikembangkan oleh Rasulullah saw yang sebenarnya juga merupakan gerakan menuju transformasi sosial menuju pada tatanan transformasi global. Dakwah dijabarkan sebagai gerakan pembebasan dari berbagai bentuk eksploitasi penindasan dan ketidakadilan dalam semua aspek kehidupan. Dari sanalah kemudian terbentuk masyarakat yang memiliki kecanggihan transformasi dan kapasitas politik modern di masanya. Untuk itu, dalam rangka melahirkan masyarakat humanis dimana masyarakat berperan sebagai subyek dan bukan objek, dibutuhkan munculnya da’i partisipatif yang mampu memfasilitasi masyarakat untuk memahami berbagai masalah, menyatakan pendapat, merencanakan prospek ke depan, dan mengevaluasi transformasi global yang kita kehendaki dan akhirnya masyarakat yang menikmati hasilnya. Karakteristik dakwah tersebut ditandai hubungan yang terbuka dan saling menghargai antara dai dan masyarakat. Isu sentralnya adalah masyarakat dan pengalaman mereka, bukan da’i dan persepsinya. Materi dakwah yang disodorkan dari luar kepada masyarakat untuk diinternalisasikan Dari situlah masyarakat didorong untuk memiliki kesadaran kritis memandang kehidupan seta memperbaiki keadaan.
Masyarakat
Dakwah di Era Globalisai Informasi Sebelum berbicara lebih jauh lagi tentang
karakteristik masyarakat dakwah di era globalisasi informasi saat ini, perlu
kita pahami terlebih dahulu dengan baik makna globalisasi informasi beserta
dampaknya terhadap perubahan masyarakat yang ada didalamnya. Hal ini tidak
dapat dipungkiri lagi bahwa di era globalisasi informasi ini telah terjadi
banyak perubahan yang cukup signifikan dengan trend yang kita sebut saja
“penipisan atau pendangkalan iman”. Globalisasi merupakan zaman dimana arus
informasi mengalir deras keseluruh penjuru dunia secara simultan tanpa
memandang perbedaan suku, ras maupun budaya serta tanpa memperhatikan ruang dan
waktu, itulah arus global ketika sudah bergulir diatas dunia ini siapapun tidak
ada yang membendung. Peristiwa demi peristiwa yang kita ketahui bagaikan
karnaval yang silih berganti dan entah sampai kapan berakhir.
Ilustrasi
tragedi kemanusiaan ini merupakan faktual dari lajunya perkembangan teknologi
informasi yang merupakan signal utama dari hadirnya era globalisasi informasi.
Kehadiran era globalisasi tersebut yang begitu gencar ini telah memfasilitasi
kita hingga dengan mudah dapat mengakses sumber-sumber informasi guna memnuhi
kebutuhan informasi kita. Sebenarnya tidak hanya kebutuhan informasi saja yang
dengan mudah dapat kita penuhi, akan tetapi kebutuhan-kebutuhan media massa
lainnya seperti informal education, entertainment, personality development
sampai pada tataran masyarakat kelas bawah dan sebagainya juga sangat mudah
dapat kita penuhi dengan memanfaatkan jasa kemajuan teknologi yang serba
canggih. Apabila kita kaji lebih dalam lagi dari sisi fungsi media di era
global ini yang antara lain dapat kita sebut media sebagai sarana informasi, baik
lewat pendidikan formal maupun informal, religious cultural, maka disamping
manfaat yang merupakan efek positif dari media massa yang sudah mengglobal juga
terdapat efek negatif yang kami yakin jauh lebih besar dan lebih membahayakan.
Efek negatif
dari semua itu yang telah mendunia inilah yang merupakan “tantangan berat bagi
dakwah saat ini” terkhusus ketika dihadapkan pada realita global informasi.
Banyak bukti yang menggambarkan profil masyarakat era globalisasi telah
menunjukkan adanya efek negatif yang sarat dengan pesanpesan budaya non islami
sehingga menyebabkan pengikisan iman sebagian besar Islam di negara kita
Indonesia. Profil masyarakat era globalisasi sekarang ini dapat kami
diskripsikan sebagai berikut:
Pertama;
Umat Islam di negara kita semakin tidak berdaya terhadap upaya internalisasi
nilai-nilai budaya non Islami dan yang jelas bertentangan dengan kaedah-kaedah
dalam syari’at Islam; sebagai bukti nyata orang tua tidak mampu melarang anak
gadisnya berpakaian ala artis, padahal gaya berpakaian seperti itu jelas-jelas
bukan tidak sopan lagi akan tetapi sudah melanggar nari norma-norma Islam.
Lebih menprihatinkan lagi Majelis Ulama Indonesia juga belum berdaya menghadapi
gencarnya Beberapa tayangan sinetron dan berbagai acara hiburan lainnya dengan
cara berpakaian yang bukan saja melanggar etika budaya ketimuran akan tetapi
juga sangat bertentangan dengan ajaran Islam dalam berbusana.
Kedua;
Kebebasan menginternalisir nilai-nila budaya non Islami ternyata tidak hanya
nampak pada fashion imitation atau peniruan gaya busana melainkan juga terlihat
jelas pada identifikasi personalnya. Bila hal ini sudah melanda pada generasi
muda kita bukan tidak mungkin akan dapat mempengaruhi berbagai lini orang yang
ada dimasyarakat tercinta kita. Berbagai profesi bahkan disetiap lapisan
masyarakatnya sudah terjadi secara langsung karena mereka memang berada di
sekelilingnya.
Ketiga;
Menurut kualitas maupun kuantits keberagamaan pemeluk Islam di negara kita juga
merupakan bukti pengkikisan iman, karena tidak dapat disangkal lagi pengaruh
budaya non Islami bukan saja mampu menipiskan iman tapi juga dapat mengoyahkan
iman dan bahkan dapat menghilangkan iman hingga pemeluknya baik secara formal
maupun informal keluar dari Islam tanpa kita sadari.
Keempat;
Umat Islam di negara kita menjadi lebih beragam dalam aliran dan terkadang
terlalu bebas serta berani bertindak tanpa batas toleransi beragama. Kondisi
yang demikian dapat membahayakan Islam secara keseluruhan.
Kelima;
Pesatnya perkembangan informasi dan teknologi era globalisasi sekarang ini juga
dapat menyuburkan kelahiran dan pertumbuhan aliran-aliran baru dalam Islam
terkhusus di Indonesia. Adanya nabi-nabi palsu yang kian marak sungguh sangat
meprihatinkan citra Islam kita di masyarakat.
Dari deskripsi
sedikit ini tentang profil masyarakat Indonesia di era globalisasi dapat kita
jadikan pemikkiran kita sebagai beberapa tantangan dakwah di era global dimana
kita harus waspada tentang hal itu, kita selalu berusaha menghilangkan pengaruh
negative akibat infiltrasi budaya non muslim yang telah menepiskan iman kita.
"Dwi Novitasari"
Komunikasi dan Penyiaran Islam