Selama
bulan Ramadhan, wajib bagi semua umat Islam yang sehat dan waras yang telah
mencapai pubertas untuk tidak makan dan minum sepanjang siang hari. Perubahan
pola makan dan hidrasi berdampak buruk terhadap aktivitas manusia termasuk anak
usia dini. Oleh karena itu, para orang tua dan guru telah mengembangkan
strategi untuk menjelaskan proses puasa Ramadhan yang baik untuk anak usia dini
dengan menerapkan tiga prinsip , yaitu i)puasa semampu anak , ii) ajak
beraktivitas positif agar mereka lupa bahwa sedang puasa , dan iii) istirahat
yang cukup. Penelitian telah menunjukkan bahwa puasa Ramadhan menyebabkan efek
baik pada beberapa hasil fisiologis seperti kekuatan anaerobik, kekuatan
aerobik maksimal, kekuatan otot dan daya tahan. Selain itu, pengurangan aktivitas
berat sebelum atau selama bulan Ramadhan akan mengakibatkan penurunan performa
fisik anak usia dini yang terlatih. Adaptasi prinsip latihan akan memungkinkan
anak usia dini mempertahankan performa latihan fisik seperti bermain sepeda dan
berlari saat berpuasa dan mencapai tujuan latihannya. Tulisan ini merupakan
tulisan orisinal yang bertujuan untuk mengelaborasi prinsip-prinsip latihan dan
bagaimana pengaruhnya dalam menjaga kinerja belajar menahan minum dan makan sepanjang bulan Ramadhan.
Dalam agama Islam, puasa Ramadhan adalah wajib bagi
semua umat Islam yang sehat dan waras yang telah mencapai pubertas. Wajib bagi
umat Islam kecuali bagi mereka yang memiliki kondisi medis. Pada bulan ini,
umat Islam berpantang makan, minum, dan berhubungan intim mulai terbit fajar
hingga terbenamnya matahari. Oleh karena itu, umat Islam diharuskan mengubah
waktu makannya menjadi pagi hari yang disebut “sahur”, dan setelah matahari
terbenam yang disebut “buka puasa”. Perubahan pada waktu makan ini mungkin menurunkan
kualitas tidur, dan hal ini dapat menimbulkan implikasi signifikan terhadap
latihan fisik dan kinerja. Selain itu, kekurangan makanan dan cairan dalam
jangka waktu lama sering kali menyebabkan dehidrasi dan rendahnya cadangan
karbohidrat yang dapat memengaruhi performa olahraga seseorang. Misalnya,
menurunkan kekuatan dan daya tahan otot, performa olahraga intensitas tinggi,
tenaga anaerobik, dan tenaga aerobik yang maksimal.
Selama puasa Ramadhan, frekuensi, intensitas dan
durasi harus dikurangi agar anak dapat menjalani rutinitas latihan fisik.
Akibat kurangnya cadangan karbohidrat dan hidrasi selama puasa, performa
latihan menjadi di bawah standar sehingga menurunkan motivasi para anak karena
tidak mampu mencapai tujuan latihan sebelum puasa. Disarankan bagi anak untuk
tidak meningkatkan rutinitas latihannya (peningkatan beban, set, repetisi,
kecepatan atau jarak) selama bulan Ramadhan, melainkan mempertahankan
kemajuannya di bulan sebelumnya. Menempatkan tujuan FITT yang realistis dapat
menjaga kepatuhan dan motivasi terus menerus sepanjang bulan ini. Berdasarkan
prinsip ini, beban latihan dapat dimodifikasi untuk mempertahankan tingkat
energi dan selanjutnya memanfaatkannya untuk mencapai sesi latihan yang
efektif.
Agar anak tidak mudah mengeluh saat proses belajar
berpuasa , maka orang tua tidak boleh memaksanya untuk berpuasa sampai magrib ,
tetapi semampu anak bertahan puasa, karna anak akan banyak bermain bersama
teman-temannta di luar rumah. Nanti anak tersebut akan snedirinya terbiasa dengan
puasa karna sudah tau apa itu puasa.
Penulis : Zainab Mukaromah (1215230144)
STAI Natuna---Program Studi PIAUD
Dosen Pengampu : Renawati, M.Pd