
ISLAMIKA- Mahasiswa dari Kampus STAI Natuna melakukan studi lapangan telapak kaki Tok Nyong untuk menganalisis fakta dan mitos hasil temuan telapak kaki Tok Nyong yang dipimpin lngsung oleh Maulida dan Abu Bakar selaku dosen Mata Kuliah Islam dan Tamadun Melayu. sabtu pagi (6/2/21)
Sejumlah mahasiswa/i tersebut juga melakukan wawancara dengan beberapa tokoh untuk menggali informasi tentang telapak kaki Tok Nyong ini diantaranya yaitu Bapak Syahruji dan Buk Hamala.
Bapak Syahruji mengatakan bahwa asal mula cerita dan akhir cerita Tok Nyong belum bisa di gali sampai sekarang kebenarannya, termasuk pada abad/tahun berapa Tok Nyong itu di temukan. Hanya saja cerita Tok Nyong di dapatkan dari cerita lama orang-orang tua mereka terdahulu, sejak kecil sebuah kebiasaan sebelum tidur di ceritakan oleh orang tuanya suatu cerita "Atok Nyong".
Kemudian lanjut buk Hamala, "Tok Nyong sebetulnya kecil orangnya. Hanya saja jika berkehendak (sesuai keinginannya), maka akan terjadi jika dalam keadaan mendesak atau tidak aman. Al kisah balik dari bekerja ibunya Tok Nyong di curi oleh Lanun seorang bajak laut yang sangat keji dan tak belas kasih. Tok Nyong amat murka, lalu pergi ke sebuah hutan mengambil tembalan atau biasa di sebut kayu. Tibalah Tok Nyong di pantai, lalu di hentakkan kayu tersebut ke dalam air asin. Tanpa di sadari air sepinggang kuali lutut berubah menjadi air pasang dengan menenggelamkan kapal Lanun. Setelah itu Tok Nyong langsung menyelamatkan ibunya. Kisah Tok Nyong berkaitan dengan adanya kehidupan di Sekalong. Aliran sungai di Selemam menyusuri ke Binjai dan Sekalong."
Salah satu mahasiswi yang ikut dalam studi lapangan ini, Aprianti menuturkan.
"Masih banyak lagi termasuk keris yang di gunakan Tok Nyong. Tapi masih di gali kembali tentang kebenaran dan alur ceritanya" Ujar Aprianti

Abu Bakar selaku dosen Mata Kuliah Islam dan Tamadun Melayu mengungkapkan
"Tujuan dari studi lapangan ke tempat sejarah yang dilaksanakan hari ini adalah bagian dari praktek keilmuan yang telah diajarkan sebelumnya di kelas terkait dengan sejarah atau sebuah peradaban."
Kemudian beliau melanjutkan bahwa yakin dan percaya banyak hal positif yang bisa diambil oleh mahasiwa/i dari kegiatan ini terkait bagaimana menggali informasi secara akurat serta etikanya.

Dilain kesempatan Maulida sebagai dosen juga mengatakan
"Selain pendidikan formal di kampus mahasiswa juga sebagai pengemban tanggungjawab melaksanakan penelititan dan pengembangan masyarakat, saya berharap setelah melakukan observasi mahasiswa dapat membuat hasil observasi dan wawancara mereka ke dalam bentuk karya ilmiah yang bermanfaat". Ungkap Maulida
Terkait informasi yang didapatkan dari lapangan, sejarah tentang kehidupan Tok Nyong ini diperediksi oleh masyarakat setempat sudah ribuan tahun yang lalu, kemudian tokoh yang disebutkan Tok Nyong adalah manusia biasa yang kesehariannya bekerja sebagai pengolah sagu, nelayan (belet).
Tetapi juga disampaikan oleh informan beliau memiliki beberapa kelebihan disebutkan mampu melangkah dengan jarak yang lebih jauh dari manusia pada umunya. *M.a