PERADABAN ISLAM DI DI ISTANBUL: MASJID HAGIA SOPHIA (AYASOFYA)


Penulis: Nerena San Fahiza

Mahasiswi Sekolah Tinggi Agama Islam Natuna

Program Studi Komunikasi Dan Penyiaran Islam



PERADABAN ISLAM DI DI ISTANBUL: MASJID HAGIA SOPHIA (AYASOFYA)


Fajar Keagungan Bizantium (532 – 1453)

Sejarah Hagia Sophia dimulai bukan sebagai masjid, melainkan sebagai katedral megah Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium). Dibangun atas perintah Kaisar Justinianus I antara tahun 532 hingga 537 M, bangunan ini dirancang oleh dua ilmuwan hebat, Anthemius dari Tralles dan Isidorus dari Miletus.

Selama hampir seribu tahun, Hagia Sophia adalah gereja terbesar di dunia Kristen. Secara arsitektur, ia adalah keajaiban teknik masa itu karena memiliki kubah raksasa yang seolah-olah "tergantung di langit". Bagi masyarakat Bizantium, bangunan ini adalah pusat alam semesta, tempat para Kaisar dimahkotai, dan simbol hubungan antara bumi dan surga. Namun, seiring melemahnya Kekaisaran Bizantium, bangunan ini menjadi saksi bisu berbagai konflik, mulai dari ikonoklasme hingga penjarahan oleh Tentara Salib pada tahun 1204 yang mengubahnya menjadi katedral Katolik selama beberapa dekade sebelum kembali ke Ortodoks.

Era Penaklukan dan Peradaban Islam (1453 – 1934)

Titik balik terbesar dalam sejarah bangunan ini terjadi pada 29 Mei 1453, ketika Sultan Mehmed II (Al-Fatih) menaklukkan Konstantinopel. Begitu memasuki kota, tempat pertama yang dikunjungi Sultan adalah Hagia Sophia. Ia terpesona oleh keagungannya namun sedih melihat kerusakannya.

Sultan Mehmed II segera memerintahkan konversi bangunan tersebut menjadi masjid. Salat Jumat pertama yang didirikan di sini menandai lahirnya era baru: Istanbul sebagai pusat Khilafah Utsmaniyah. Selama masa ini, Hagia Sophia mengalami transformasi fisik dan spiritual:

  1. Penambahan Menara: Empat menara besar dibangun secara bertahap untuk mengumandangkan azan.
  2. Seni Islam: Mosaik-mosaik Kristen ditutup dengan plester (bukan dihancurkan) dan digantikan oleh kaligrafi Arab yang megah.
  3. Pusat Sosial: Di sekelilingnya dibangun madrasah, perpustakaan, dan dapur umum, menjadikannya jantung intelektual kota.

Hagia Sophia tetap menjadi masjid utama kesultanan hingga runtuhnya Kekaisaran Utsmaniyah setelah Perang Dunia I.

Era Sekuler dan Museum (1934 – 2020)

Setelah berdirinya Republik Turki, pemimpin modernis Mustafa Kemal Atatürk mengambil langkah radikal pada tahun 1934. Dalam upaya untuk mensekulerkan negara dan menjembatani hubungan dengan Barat, ia mengubah Hagia Sophia menjadi museum.

Karpet-karpet dicopot, lantai marmer kuno diekspos, dan mosaik-mosaik Kristen kembali diungkap. Selama 86 tahun, Hagia Sophia berdiri sebagai monumen netral yang melambangkan sejarah panjang Turki yang multikultural. Namun, bagi kelompok konservatif di Turki, status museum dianggap sebagai "luka" bagi kedaulatan Islam.

Aspek Paling Menonjol – Legitimasi Politik dan Kedaulatan

Di antara semua aspek yang ada, Aspek Politik adalah yang paling menonjol dan mendominasi narasi Hagia Sophia sepanjang sejarahnya. Berikut adalah bedah mendalam mengapa politik menjadi ruh utama bangunan ini:

1. Simbol "Supremasi Imperium"

Bagi Sultan Mehmed II, mengubah Hagia Sophia menjadi masjid bukan sekadar kebutuhan tempat ibadah, melainkan sebuah pernyataan politik global. Dalam hukum penaklukan abad pertengahan, gereja utama di kota yang ditaklukkan menjadi milik pemenang. Dengan menguasai Hagia Sophia, Sultan Mehmed secara resmi mengklaim gelar Kayser-i Rum (Kaisar Romawi), memposisikan dirinya sebagai pewaris sah kekuasaan dunia di atas takhta Konstantinopel.

2. Pedang Kedaulatan (Kılıç Hakkı)

Ada sebuah tradisi unik di Hagia Sophia: Khatib yang naik ke mimbar sering kali membawa pedang di tangan kirinya atau menyandarkannya di mimbar. Ini adalah simbol "Hak Pedang" (Kılıç Hakkı), sebuah konsep politik Utsmaniyah yang menyatakan bahwa bangunan ini adalah wakaf hasil penaklukan. Pedang ini bukan simbol kekerasan, melainkan simbol kedaulatan negara atas wilayah tersebut.

3. Instrumen Politik Domestik dan Internasional Modern

Pada Juli 2020, ketika Presiden Recep Tayyip ErdoÄŸan mengembalikan status Hagia Sophia menjadi masjid, dunia gempar. Keputusan ini bukan didorong oleh kurangnya jumlah masjid di Istanbul, melainkan oleh sentimen politik.

Pesan Domestik: Mengukuhkan identitas nasional Turki yang berbasis Islam dan memenuhi janji politik kepada basis pendukung konservatif.

Pesan Global: Menunjukkan bahwa Turki adalah negara berdaulat yang tidak bisa diintervensi oleh tekanan Barat (seperti UNESCO atau Uni Eropa) terkait penggunaan aset nasionalnya.

4. Titik Temu Geopolitik

Hagia Sophia selalu menjadi barometer hubungan antara dunia Islam dan Kristen. Setiap perubahan statusnya selalu diikuti oleh ketegangan diplomatik. Hal ini membuktikan bahwa Hagia Sophia bukan sekadar tumpukan batu dan marmer, melainkan sebuah entitas politik hidup. Siapa yang mengontrol Hagia Sophia, dialah yang memegang narasi sejarah di gerbang antara Timur dan Barat.


Aspek Politik Hagia Sophia,

Aspek Politik Hagia Shopia, khususnya terkait dengan dokumen hukum dan dekrit tahun 2020 yang menjadi titik balik penting dalam sejarah modernnya. Yaitu:

Dekrit Presiden 2020: Pengembalian Status Masjid

Pada tanggal 10 Juli 2020, sebuah keputusan hukum besar diambil oleh Danıştay (Dewan Negara atau Pengadilan Administrasi Tertinggi Turki). Pengadilan tersebut membatalkan dekrit kabinet tahun 1934 yang ditandatangani oleh Mustafa Kemal Atatürk yang sebelumnya mengubah Hagia Sophia menjadi museum.

Beberapa poin politik dan hukum yang sangat menonjol dari peristiwa ini adalah:

1. Status Wakaf Sultan Mehmed II

Pengadilan memutuskan bahwa Hagia Sophia adalah properti pribadi milik Sultan Mehmed II yang telah diwakafkan (dihibahkan untuk kepentingan agama) sebagai masjid. Dalam hukum properti Turki, status wakaf dianggap tidak dapat diganggu gugat oleh keputusan pemerintah mana pun. Secara politik, ini adalah pesan bahwa kedaulatan hukum Islam sejarah (wakaf) lebih tinggi daripada keputusan sekuler masa lalu.

2. Kedaulatan Nasional vs. Tekanan Internasional

Sesaat setelah keputusan pengadilan keluar, Presiden Recep Tayyip ErdoÄŸan menandatangani dekrit presiden yang secara resmi membuka kembali Hagia Sophia untuk ibadah umat Islam. Dalam pidato nasionalnya, beliau menekankan bahwa "Bagaimana Hagia Sophia digunakan adalah masalah kedaulatan Turki." Ini merupakan pernyataan politik yang sangat kuat kepada dunia internasional (khususnya UNESCO, Yunani, dan Uni Eropa) bahwa Turki tidak memerlukan izin dari pihak luar untuk mengelola warisannya sendiri.

3. Simbolisme "Pedang" dalam Khutbah

Pada salat Jumat perdana tanggal 24 Juli 2020, Kepala Urusan Agama Turki, Ali Erbaş, naik ke mimbar dengan membawa sebilah pedang. Secara politik, ini adalah tradisi Utsmaniyah yang disebut Kılıç Hakkı (Hak Pedang). Penggunaan pedang ini mengirimkan pesan simbolis bahwa penaklukan Konstantinopel tahun 1453 tetap menjadi landasan identitas nasional dan politik Turki modern.

4. Dampak Geopolitik

Langkah ini memicu perdebatan global. Banyak negara Barat memandangnya sebagai langkah mundur dari sekularisme, sementara banyak negara di dunia Islam menyambutnya sebagai simbol kebangkitan identitas Muslim. Hal ini membuktikan bahwa Hagia Sophia bukan sekadar bangunan tua, melainkan aset geopolitik yang bisa digunakan untuk memperkuat posisi tawar sebuah negara di panggung dunia.

Hagia Sophia bukan sekadar pencapaian arsitektur yang melintasi zaman, melainkan sebuah palimpsest politik di mana setiap penguasa menuliskan legitimasi kekuasaannya di atas fondasi yang sudah ada. Transformasi statusnya dari katedral ortodoks yang melambangkan kemegahan Bizantium, menjadi masjid sebagai simbol penaklukan Utsmaniyah, hingga museum sekuler dan kembali menjadi masjid di era modern membuktikan bahwa bangunan ini adalah instrumen kedaulatan yang paling kuat di gerbang Timur dan Barat. Dinamika hukum "Hak Pedang" (Kılıç Hakkı) dan pembatalan dekrit 1934 menunjukkan bahwa di balik dinding marmernya yang megah, Hagia Sophia adalah barometer ideologi; ia tidak pernah benar-benar menjadi ruang netral, melainkan medan tempur simbolis tempat identitas nasional, supremasi agama, dan posisi tawar geopolitik Turki ditegaskan di hadapan dunia.

Dalam rentang waktu 1.500 tahun, dari katedral agung hingga menjadi museum dan kembali menjadi masjid, Hagia Sophia selalu berada di pusaran kekuasaan. Setiap perubahan fungsinya adalah cerminan dari ideologi penguasa pada masanya.

Inilah yang menjadikannya pusat peradaban paling menonjol di Istanbul: ia bukan hanya saksi bisu sejarah, melainkan alat aktif yang digunakan oleh para pemimpin untuk mendefinisikan siapa mereka dan ke mana arah bangsa mereka.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama