JEJAK KEJAYAAN DAN DINAMIKA KEMUNDURAN KESULTANAN TURKI USMANI

 

JEJAK KEJAYAAN DAN DINAMIKA KEMUNDURAN KESULTANAN TURKI USMANI 




Oleh : Putri Cahyuni 

Program Studi Hukum Pidana Islam 

Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna

Email : putricahyuni5@gmail.com



Turki Usmani dikenal sebagai salah satu kerajaan Islam yang memiliki masa pemerintahan paling panjang sekaligus wilayah kekuasaan yang sangat luas. Kekuasaan kerajaan ini bahkan meluas hingga ke berbagai kawasan di Eropa, sehingga keberadaannya selalu menjadi topik yang menarik untuk diteliti dalam kajian sejarah Islam. Penelitian ini membahas perjalanan sejarah Turki Usmani dengan fokus pada perkembangan yang berhasil dicapai serta faktor-faktor yang menyebabkan kemundurannya. 

Penulisan artikel ini menggunakan pendekatan studi pustaka (library research) dengan metode deskriptif historis, yaitu mengkaji berbagai sumber tertulis yang relevan untuk menggambarkan peristiwa secara runtut. Hasil kajian menunjukkan bahwa salah satu pencapaian terbesar Turki Usmani terletak pada bidang militer. Keunggulan tersebut terlihat dari luasnya wilayah yang berhasil ditaklukkan dan dipertahankan selama berabad-abad.

Namun demikian, di balik kejayaannya, kerajaan ini juga mengalami kemunduran. Salah satu faktor penting yang menyebabkan runtuhnya Turki Usmani adalah sistem regenerasi kepemimpinan yang kurang efektif. Pergantian sultan yang tidak berjalan secara optimal berdampak pada menurunnya kualitas kepemimpinan dari waktu ke waktu. Akibatnya, pemerintahan menjadi lemah dan tidak mampu lagi mengontrol wilayah kekuasaan yang semakin luas dan kompleks.

Asal Usul Berdirinya Turki Usmani

Turki Usmani merupakan salah satu dari tiga kerajaan besar islam pada abad pertengahan selain Safawiyah dan Mughal, terletak di Instanbul, Turki . Dinasti ini berasal dari suku bangsa pengembara yang bermukim di wilayah Asia Tengah. Mereka merupakan tergolong suku Kayi, yaitu salah satu suku di Turki Barat yang terancam gelombang keganasan dari serbuan bangsa Mongol. Pendirinya adalah bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah utara China. Dalam jangka waktu sekitar 3 abad,mereka berpindah ke Turkistan lalu Persia dan Irak. Mereka masuk Islam sekitar abad ke-9 atau 10 M saat menetap di Asia Tengah. Di Asia Tengah di bawah pimpinan Arthogol suku Kayi mengabdikan diri kepada Sultan Alauddin II yang ketika itu sedang berperang melawan Bizantium. Berkat bantuan suku Kayi, Sultan Alauddin mendapatkan kemenangan. Maka atas jasa baik mereka, Sultan menghadiahkan sebidang tanah . Kemudian mereka membina dan membangun wilayah barunya dan memilih kota Syukud sebagai ibu kotanya. Namun, pada tahun 1289 M Arthogol meninggal dunia,kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya yaitu Usman ibn Arthogol Tahun 1300 M, bangsa Mongol menyerang Kerajaan Saljuk dan Sultan Alauddin terbunuh. Kerajaan Saljuk pun kemudian terpecah-pecah dalam beberapa kerajaan kecil. Utsmani kemudian menyatakan kemerdekaan dan berkuasa penuh atas daerah yang didudukinya. Sejak itulah Kerajaan Utsmani dinyatakan berdiri. Nama Turki Usmani ddiambil dari nenek moyang mereka yang pertama yaitu Sultan Usmani Ibn Sauji ibn Orthogol Ibn Sulaiman Shah Ibn Kia Alp, kepala Kabilah Kab di Asia Tengah . Penguasa pertama adalah Usman yang disebut juga sebagai Usman I. Setelah Usman I mengumumkan dirinya sebagai Padisyah Al-Usman (Raja Besar Keluarga Usman) tahun 699 H (1300 M) setapak demi setapak wilayah kerajaan dapat diperluasnya. Ia menyerang daerah Bizantium dan menaklukan Kota Broessa tahun 1317 M, kemudian tahun 1326 M dijadikan sebagai ibukota Dinasti Turki Usmani. 

Dalam sistem pemerintahan Kesultanan Turki Utsmani, kekuasaan diwariskan secara turun-temurun dalam keluarga kerajaan. Namun, tidak ada ketentuan baku bahwa anak laki-laki tertua otomatis menjadi pengganti sultan sebelumnya. Dalam beberapa kasus, tahta justru diberikan kepada putra yang lain, seperti anak kedua atau ketiga. Bahkan pada periode tertentu, kekuasaan juga pernah beralih kepada saudara sultan, bukan kepada anaknya.

Sepanjang sejarah berdirinya Kesultanan Turki Utsmani yang berlangsung kurang lebih tujuh abad (1299/1300–1924 M), tercatat sekitar 38 sultan yang pernah memimpin kerajaan ini. Menurut pembagian yang dikemukakan oleh Syafiq A. Mughni, masa pemerintahan para sultan tersebut dapat dikelompokkan ke dalam lima periode sebagai berikut:

1. Periode Pertama

Pada fase awal berdirinya kerajaan, para sultan yang memimpin adalah:

Utsman I (1299–1326 M), pendiri dinasti Utsmani.

Orkhan (1326–1359 M), putra Utsman I.

Murad I (1359–1389 M), putra Orkhan.

Bayazid I Yildirim (1389–1402 M), putra Murad I.

2. Periode Kedua

Masa ini ditandai dengan semakin luasnya wilayah kekuasaan Utsmani. Sultan-sultan yang memerintah antara lain:

Muhammad I (1403–1421 M), putra Bayazid I.

Murad II (1421–1451 M), putra Muhammad I.

Muhammad II al-Fatih (1451–1481 M), putra Murad II, dikenal sebagai penakluk Konstantinopel.

Bayazid II (1481–1512 M), putra Muhammad II.

Salim I (1512–1520 M), putra Bayazid II.

Sulaiman I al-Qanuni (1520–1566 M), putra Salim I, yang membawa kerajaan pada puncak kejayaannya.

3. Periode Ketiga

Pada periode ini, kepemimpinan silih berganti di antara keturunan Sulaiman I dan keluarga dekatnya:

Salim II (1566–1574 M).

Murad III (1574–1596 M).

Muhammad III (1596–1603 M).

Ahmad I (1603–1617 M).

Mustafa I (1617–1618 M dan 1622–1623 M).

Usman II (1618–1622 M).

Murad IV (1623–1640 M).

Ibrahim I (1640–1648 M).

Muhammad IV (1648–1687 M).

Sulaiman II (1687–1691 M).

Ahmad II (1691–1695 M).

Mustafa II (1695–1703 M).

4. Periode Keempat

Fase ini ditandai dengan berbagai tantangan internal dan eksternal:

Ahmad III (1703–1730 M).

Mahmud I (1730–1754 M).

Usman III (1754–1757 M).

Mustafa III (1757–1774 M).

Abdul Hamid I (1774–1789 M).

Salim III (1789–1807 M).

Mustafa IV (1807–1808 M).

Mahmud II (1808–1839 M).

5. Periode Kelima

Merupakan masa akhir Kesultanan Utsmani hingga pembubaran sistem kesultanan:

Abdul Majid I (1839–1861 M).

Abdul Aziz (1861–1876 M).

Murad V (1876 M).

Abdul Hamid II (1876–1909 M).

Muhammad V (1909–1918 M).

Muhammad VI (1918–1922 M).

Abdul Majid II (1922–1924 M), yang menjadi khalifah terakhir sebelum institusi kekhalifahan dihapuskan.

Masa Kejayaan Turki Usmani

1. Pemerintahan Dan Militer

Pada masa awal berdirinya, para pemimpin Turki Utsmani dikenal sebagai figur-figur tangguh dan visioner. Kepemimpinan yang kuat ini memungkinkan ekspansi wilayah berlangsung cepat dan meluas. Namun, kejayaan Utsmani tidak semata-mata bertumpu pada kecakapan politik sultannya. Di balik itu, terdapat kekuatan militer yang disiplin, terlatih, dan memiliki mental tempur tinggi. Keberanian, ketahanan fisik, serta kesiapan berperang kapan pun dan di mana pun menjadi ciri utama pasukan Utsmani.

Organisasi militer mulai ditata secara sistematis ketika mereka berhadapan langsung dengan kekuatan Eropa. Saat itu, pasukan besar telah tersusun rapi dengan strategi dan taktik yang efektif. Meski sempat mengalami kemunduran moral pasca-kemenangan—di mana sebagian prajurit mulai menuntut hak dan kedudukan—situasi ini segera dibenahi oleh Sultan Orkhan melalui reformasi militer besar-besaran.

Reformasi tersebut tidak hanya menyentuh pergantian pimpinan, tetapi juga pembaruan struktur keanggotaan. Bangsa-bangsa non-Turki direkrut, bahkan anak-anak Kristen diasramakan, dididik dalam lingkungan Islam, dan dibina menjadi prajurit profesional. Dari kebijakan inilah lahir pasukan elit Janissari (Inkisyariyah), yang kemudian menjelma menjadi tulang punggung kekuatan militer Utsmani dan motor utama ekspansi wilayah non-Muslim.

Selain Janissari, terdapat pula pasukan feodal yang dikirim ke pusat pemerintahan, dikenal sebagai kelompok militer Thaujiah. Angkatan laut juga diperkuat, mengingat perannya yang strategis dalam ekspansi lintas benua. Pada abad ke-16, armada laut Utsmani mencapai puncak kejayaannya dan menjadi salah satu kekuatan maritim paling disegani. Karakter bangsa Turki yang disiplin, patuh aturan, dan berjiwa militer—warisan dari nenek moyang Asia Tengah—menjadi faktor penting keberhasilan ini.

Keberhasilan ekspansi militer turut diiringi sistem pemerintahan yang tertata. Sultan bertindak sebagai otoritas tertinggi, dibantu oleh Shadr al-A‘zham (perdana menteri), yang membawahi para Pasya (gubernur). Di tingkat daerah, terdapat pejabat setingkat bupati (al-Zanaziq atau al-Alawiyah).

Pada masa Sultan Sulaiman I, sistem hukum diperkuat melalui penyusunan kitab undang-undang bernama Multaqa al-Abhur. Kitab ini menjadi rujukan hukum resmi hingga abad ke-19. Berkat jasanya dalam pembentukan regulasi tersebut, ia dikenal dengan gelar Sulaiman al-Qanuni (Sang Pembuat Undang-Undang).

2. Bidang Intelektual dan Ilmu Pengetahuan

Jika dibandingkan dengan kejayaan militer dan politiknya, perkembangan intelektual Turki Utsmani memang tidak terlalu menonjol. Namun, bukan berarti stagnan. Abad ke-19 menandai munculnya dinamika baru dalam dunia pendidikan dan literasi.

Beberapa surat kabar mulai terbit, seperti Takvini Veka (1831), Terjumani Ahval (1860), dan Tasviri Efkyar (1862). Kehadiran media ini membuka ruang diskusi publik dan memperluas akses informasi di tengah masyarakat.

Transformasi pendidikan juga mulai terlihat. Pemerintah mendirikan sekolah dasar dan menengah pada 1861, disusul perguruan tinggi pada 1869. Fakultas kedokteran dan hukum turut dibentuk sebagai bagian dari modernisasi pendidikan. Bahkan, pelajar berprestasi dikirim ke Prancis untuk melanjutkan studi—sebuah langkah progresif yang sebelumnya belum pernah dilakukan.

Dari dunia sastra, lahir tokoh-tokoh penting seperti Ibrahim Shinasi, pendiri Tasviri Efkyar, yang menulis karya komedi The Poet’s Wedding. Namik Kemal tampil dengan karya nasionalistik Fatherland atau Silistria. Ahmad Midhat menghasilkan Entertaining Tales, sementara Mehmed Taufiq menulis Year in Istanbul. Karya-karya ini menunjukkan adanya pergeseran pemikiran menuju modernitas dan semangat

3. Bidang Kebudayaan

Dalam ranah kebudayaan, Turki Utsmani meninggalkan warisan peradaban Islam yang gemilang. Pada abad ke-16 hingga ke-18, banyak tokoh sastra dan seni bermunculan.

Di abad ke-17, penyair Nafi’ dikenal melalui karya-karya kasidahnya yang mendapat tempat di kalangan istana. Yusuf Nabi, yang membawa pengaruh Persia ke lingkungan istana, menulis puisi yang membahas beragam tema—agama, filsafat, cinta, mistisisme, hingga sejarah dan geografi.

Dalam bidang prosa, dua nama besar mencuat: Katip Celebi dan Evliya Celebi. Katip Celebi (Mustafa bin Abdullah) dikenal melalui karya monumentalnya Kasyf az-Zunun fi Asma’ al-Kutub wa al-Funun, yang memuat biografi penulis Timur beserta daftar ribuan karya dalam bahasa Turki, Persia, dan Arab.

Di bidang arsitektur, Utsmani menorehkan prestasi luar biasa. Masjid-masjid megah seperti Masjid Sultan Muhammad al-Fatih, Masjid Agung Sulaiman, dan Masjid Abu Ayyub al-Anshari menjadi simbol kejayaan arsitektur Islam. Hagia Sophia yang sebelumnya gereja dihiasi kaligrafi indah sebagai penanda identitas baru.

Pada masa Sulaiman al-Qanuni, ratusan bangunan publik—masjid, sekolah, rumah sakit, jembatan, saluran air, hingga pemandian umum—dibangun. Banyak di antaranya dirancang oleh arsitek besar Sinan dari Anatolia.

4. Bidang Keagamaan

Dalam kehidupan sosial-politik Utsmani, agama memegang peranan sentral. Ulama memiliki posisi terhormat, dan Mufti sebagai otoritas keagamaan tertinggi berperan dalam legitimasi kebijakan hukum kerajaan.

Perkembangan tarekat juga sangat pesat, terutama Bektasiyah dan Maulawiyah. Tarekat Bektasiyah berpengaruh kuat di kalangan pasukan Janissari, sedangkan Maulawiyah dekat dengan kalangan elit dan penguasa.

Meski demikian, perkembangan ilmu-ilmu keislaman seperti fikih, tafsir, dan kalam tidak mengalami kemajuan signifikan. Sebagian penguasa cenderung bersikap taklid terhadap satu mazhab dan kurang terbuka terhadap perbedaan pandangan.

Kemunduran Turki Usmani

Menentukan satu penyebab utama runtuhnya Turki Utsmani bukanlah perkara sederhana. Namun, salah satu titik lemahnya terletak pada sistem birokrasi yang sangat bergantung pada kapasitas seorang sultan. Ketika sultan memiliki kepemimpinan yang kuat, stabilitas negara masih bisa terjaga. Sebaliknya, jika yang berkuasa lemah, maka celah keretakan politik dengan cepat terbuka. Struktur pemerintahan yang terlalu bertumpu pada figur penguasa membuat kerajaan ini rentan goyah dari dalam.

Sejak wafatnya Sultan Sulaiman al-Qanuni pada tahun 1566 M, tanda-tanda kemunduran mulai terlihat, meskipun tidak langsung terasa karena luas dan kuatnya fondasi kekuasaan saat itu. Penggantinya, Salim II, sering dianggap para sejarawan sebagai awal berakhirnya masa kejayaan Utsmani. Di periode inilah perlahan-lahan wibawa militer dan politik mulai menurun.

Semangat juang tentara Utsmani juga tidak lagi sekuat sebelumnya. Kekalahan demi kekalahan mulai terjadi. Pada abad ke-17, pasukan Utsmani mengalami kegagalan di wilayah Hongaria. Puncaknya adalah Perjanjian Karlowitz tahun 1699 yang memaksa Turki Utsmani menyerahkan sebagian besar wilayahnya di Eropa. Situasi ini menunjukkan bahwa dominasi mereka di kawasan tersebut mulai runtuh.

Tekanan dari Rusia pun semakin memperburuk keadaan. Pada 1774 M, Sultan Abdul Hamid terpaksa menandatangani perjanjian yang mengakui kemerdekaan Krimea dan memberi Rusia akses strategis di Laut Hitam. Ini menjadi bukti bahwa posisi tawar Utsmani di panggung internasional semakin melemah.

Di sisi lain, daerah-daerah kekuasaan mulai berani melepaskan diri. Di Mesir, pasukan Jenisseri bersekutu dengan Mamluk dan mengambil alih kekuasaan. Di Syam dan Lebanon muncul gerakan perlawanan, sementara di Jazirah Arab berkembang gerakan pemurnian yang dipimpin Muhammad bin Abdul Wahab yang kemudian bersekutu dengan Ibnu Saud. Gelombang perlawanan ini terus berlanjut hingga abad ke-19 dan awal abad ke-20. Akhirnya, setelah melalui proses panjang penuh gejolak, kekhalifahan Turki Utsmani resmi berakhir pada 1924 M. Berdirilah Republik Turki dengan Mustafa Kemal Atatürk sebagai presiden pertamanya. Sejak saat itu, Turki tidak lagi menjadi kekuatan dominan seperti masa silam. Bahkan, bangsa Eropa sempat menjulukinya sebagai “The Sick Man of Europe”.

1. Faktor-Faktor Kemunduran

Beberapa sejarawan merangkum penyebab kemunduran Turki Utsmani dalam sejumlah faktor penting:

 a. Lemahnya Sultan dan birokrasi

Sistem pemerintahan yang terlalu bergantung pada figur sultan membuat negara mudah goyah. Ketika terjadi konflik antar elit, mereka justru sibuk membangun koalisi demi kepentingan pribadi. Praktik suap, perebutan jabatan, dan pemberontakan pasukan elite seperti Jenisseri semakin memperparah situasi. Banyak sultan memilih menjauh dari urusan pemerintahan dan menyerahkannya pada pejabat tinggi, yang kadang justru memanfaatkan kondisi tersebut.

b. Kemerosotan sosial dan ekonomi

Perubahan besar dalam struktur penduduk dan ekonomi membawa dampak serius. Sementara Eropa berkembang pesat dalam perdagangan dan sistem keuangan, Utsmani kesulitan menyesuaikan diri. Sentralisasi kekuasaan melemah, pejabat daerah semakin berpengaruh, dan ekonomi tradisional perlahan runtuh.

c. Bangkitnya kekuatan Eropa

Di saat Turki Utsmani sibuk menghadapi persoalan internal, negara-negara Eropa justru mengalami kemajuan dalam militer, teknologi, dan ekonomi. Ketimpangan inilah yang membuat Utsmani semakin tertinggal dan tidak mampu bersaing dalam percaturan global.

Selain itu, ada beberapa faktor tambahan yang mempercepat keruntuhan:

  1. Wilayah yang terlalu luas sehingga sulit dikelola dengan sistem administrasi yang lemah.
  2. Keberagaman penduduk yang tinggi tanpa manajemen pemerintahan yang solid.
  3. Budaya korupsi yang mengakar dalam sistem jabatan.
  4. Pemberontakan berulang dari pasukan Jenisseri.
  5. Beban perang yang menguras kas negara.
  6. Stagnasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga kalah saing dengan persenjataan modern Eropa.

Perjalanan panjang Turki Usmani adalah kisah tentang bangkit, berjaya, lalu perlahan melemah di tengah perubahan dunia yang semakin dinamis. Dari sebuah kabilah kecil di Asia Tengah, mereka tumbuh menjadi imperium besar yang menguasai tiga benua dan memegang peranan penting dalam percaturan politik global selama berabad-abad. Keunggulan militer, ketegasan sistem pemerintahan, serta warisan arsitektur dan budaya menjadi bukti bahwa Utsmani bukan sekadar kerajaan, melainkan sebuah peradaban besar. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa kekuatan tanpa pembaruan akan kehilangan relevansinya. Ketergantungan pada figur sultan, konflik internal, kemerosotan ekonomi, serta ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi membuat kerajaan ini sulit bersaing dengan kekuatan Eropa yang terus berkembang. Tekanan dari luar bertemu dengan rapuhnya fondasi di dalam, hingga akhirnya imperium yang pernah disegani itu runtuh pada awal abad ke-20.

Dari sini dapat dipetik pelajaran penting bahwa kejayaan bukanlah sesuatu yang abadi. Ia harus dirawat dengan tata kelola yang baik, kepemimpinan yang bijak, serta keterbukaan terhadap perubahan. Turki Usmani telah meninggalkan warisan sejarah yang panjang bagi dunia Islam dan peradaban dunia, sekaligus menjadi refleksi bahwa kekuatan sejati suatu bangsa terletak pada kemampuannya beradaptasi dan menjaga keseimbangan antara tradisi dan pembaruan.


( Sumber : Nasution, Syamruddin. "sejarah peradaban Islam." (2013).

Uliyah, Taqwatul. "Kepemimpinan Kerajaan Turki Utsmani: Kemajuan Dan Kemundurannya." JURNAL AN-NUR: Kajian Ilmu-Ilmu Pendidikan dan Keislaman 7.02 (2021): 324-333.

Munzir, Muh

ammad, Nining Artianasari, dan Muhammad Ismail. "Sejarah Kerajaan Turki Usmani." CARITA (2023): 159-176.)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama