Mega fatmawati
Program
Studi Komunimasi dan Penyiaran Islam
Sekolah
Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna
Email : Megafatwa02@gmail.com
Abstrak:
Artikel ini membahas corak
pemikiran Islam KH. Hasyim Asy'ari, seorang ulama besar yang menjadi tokoh
pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan salah satu pemikir utama Islam di Indonesia.
Pemikiran beliau menunjukkan tiga corak utama: konservatisme, modernisasi, dan
transformasi. Dalam konservatisme, KH. Hasyim Asy’ari menekankan pentingnya
menjaga tradisi keagamaan dan keilmuan klasik (turats), khususnya warisan pemikiran
madzhab Syafi'i. Namun, konservatisme ini tidak berarti kaku, karena beliau
juga mengadopsi pendekatan modernisasi. Modernisasi dalam pemikirannya
tercermin pada upaya merespons tantangan zaman, seperti mendorong pendidikan
Islam melalui madrasah dan integrasi ilmu agama dengan ilmu umum. Sementara
itu, corak transformasi tampak dalam visi beliau untuk menyesuaikan nilai-nilai
Islam dengan konteks sosial budaya masyarakat Indonesia, misalnya melalui
pendekatan dakwah yang inklusif dan penguatan nasionalisme berbasis agama.
Kombinasi ketiga corak pemikiran ini menjadikan KH. Hasyim Asy'ari sebagai
ulama yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga adaptif terhadap perubahan,
sehingga relevan dalam menghadapi dinamika zaman. Artikel ini menunjukkan bahwa
pemikiran beliau adalah cerminan keseimbangan antara pelestarian nilai-nilai
Islam tradisional dan kebutuhan pembaruan dalam masyarakat modern.
Pendahuluan
KH.
Hasyim Asy’ari merupakan salah satu tokoh sentral dalam sejarah Islam di
Indonesia yang kontribusinya melampaui batas waktu. Sebagai pendiri Nahdlatul
Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, beliau memainkan peran
penting dalam membangun pondasi keislaman yang kokoh sekaligus relevan dengan
konteks sosial-budaya bangsa Indonesia. Pemikiran KH. Hasyim Asy’ari tidak
hanya berakar pada tradisi keilmuan Islam klasik, tetapi juga mencerminkan
kemampuan beliau dalam menyesuaikan ajaran Islam dengan tantangan zaman. Dalam
hal ini, corak pemikiran beliau dapat dikategorikan ke dalam tiga aspek utama:
konservatisme, modernisasi, dan transformasi.
Konservatisme
KH. Hasyim Asy’ari terlihat dari upayanya menjaga dan melestarikan tradisi
Islam klasik, khususnya melalui pendekatan madzhab Syafi’i dan penghormatan
terhadap turats (warisan keilmuan Islam). Namun, pemikiran beliau tidak
terhenti pada pelestarian tradisi. KH. Hasyim Asy’ari juga memiliki visi
modernisasi, yang diwujudkan dalam reformasi sistem pendidikan Islam dan
penyelarasan nilai-nilai keislaman dengan perkembangan zaman. Di sisi lain, transformasi
menjadi corak pemikiran yang tidak kalah penting, di mana beliau berupaya
menanamkan nilai-nilai Islam yang harmonis dengan budaya lokal dan
memperjuangkan persatuan bangsa dalam menghadapi kolonialisme
Pembahasan.
1. Konservatisme: Menjaga Tradisi
Keislaman
Konservatisme KH. Hasyim Asy’ari tercermin dalam komitmennya untuk
mempertahankan ajaran Islam berdasarkan sumber utama seperti Al-Qur’an, hadis,
serta kitab-kitab turats (warisan ulama klasik). Sebagai seorang ulama yang
berpegang pada madzhab Syafi’i, KH. Hasyim Asy’ari sangat menghormati sistem
bermadzhab sebagai metode yang terstruktur dalam memahami syariat Islam. Dalam
kitabnya Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, ia menekankan pentingnya adab dalam
belajar dan mengajar ilmu agama, yang menjadi bagian dari tradisi ulama klasik.
Beliau juga menekankan pentingnya sanad keilmuan, yaitu kesinambungan
keilmuan dari para ulama terdahulu hingga generasi selanjutnya. Hal ini
dilakukan untuk menjaga kemurnian ajaran Islam dari interpretasi yang keliru.
Namun, konservatisme ini tidak dimaksudkan sebagai bentuk ketertutupan terhadap
perubahan, melainkan sebagai cara untuk menjaga identitas Islam di tengah arus
modernisasi yang sering kali berpotensi mengaburkan nilai-nilai agama.
2. Modernisasi: Respons terhadap
Tantangan Zaman
Di tengah semangat menjaga tradisi, KH. Hasyim Asy’ari juga memahami
pentingnya modernisasi, terutama dalam bidang pendidikan. Pada masa itu, sistem
pendidikan Islam masih didominasi oleh model pesantren tradisional. KH. Hasyim
Asy’ari memberikan kontribusi signifikan dengan memperkenalkan model pendidikan
yang lebih terorganisasi, seperti pendirian madrasah. Sistem madrasah ini
menggabungkan kurikulum ilmu agama dengan ilmu umum, sehingga menghasilkan generasi
Muslim yang tidak hanya paham agama tetapi juga memiliki kemampuan untuk
beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Pemikiran modern KH. Hasyim Asy’ari juga terlihat dalam pandangannya
mengenai hubungan Islam dan ilmu pengetahuan. Beliau memandang bahwa ilmu agama
dan ilmu duniawi tidak harus dipisahkan, melainkan saling melengkapi. Pandangan
ini menjadi dasar penting dalam menyikapi dinamika globalisasi dan perkembangan
teknologi di kemudian hari.
3. Transformasi: Islam dan
Konteks Kebangsaan
Transformasi menjadi aspek penting dalam pemikiran KH. Hasyim Asy’ari,
terutama terkait dengan konteks sosial dan budaya Indonesia. Beliau memahami
bahwa Islam harus diadaptasikan dengan budaya lokal tanpa menghilangkan esensi
ajarannya. Salah satu contohnya adalah pendekatan dakwah yang menghormati
kearifan lokal masyarakat Jawa, seperti penggunaan seni dan budaya sebagai media
penyebaran Islam.
Selain itu, pemikiran transformasi KH. Hasyim Asy’ari juga terlihat dalam
perannya sebagai pemimpin dalam perjuangan melawan kolonialisme. Beliau
menanamkan semangat nasionalisme yang berbasis nilai-nilai keislaman, seperti
terlihat dalam seruan jihad melawan penjajah yang termaktub dalam Resolusi
Jihad. Hal ini menunjukkan bahwa beliau tidak hanya memikirkan Islam dalam dimensi
spiritual, tetapi juga dalam dimensi sosial dan politik.
Dalam pandangan KH. Hasyim Asy’ari, Islam bukan hanya agama yang
berorientasi pada akhirat, tetapi juga agama yang memiliki peran aktif dalam
membangun peradaban. Beliau menunjukkan bahwa seorang Muslim tidak hanya harus
menjaga kesalehan individu, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap
masyarakat.
Kesimpulan.
KH. Hasyim Asy’ari merupakan tokoh ulama besar yang berhasil memadukan tiga
corak pemikiran konservatisme, modernisasi, dan transformasi secara harmonis
dalam menjalankan peran keulamaannya.
Konservatisme beliau tercermin dalam komitmennya untuk menjaga ajaran Islam
klasik berdasarkan Al-Qur’an, hadis, dan kitab turats, dengan menekankan
pentingnya sanad keilmuan dan sistem bermadzhab untuk menjaga kemurnian ajaran
Islam. Konservatisme ini menjadi fondasi dalam menjaga identitas keislaman di
tengah perubahan zaman.
Modernisasi terlihat dalam upayanya merespons tantangan zaman, khususnya
dalam bidang pendidikan. Ia memperkenalkan sistem madrasah yang
mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum, serta memandang ilmu pengetahuan
duniawi dan agama sebagai elemen yang saling melengkapi. Hal ini membuktikan
bahwa Islam dapat bersinergi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan
esensinya.
Transformasi ditunjukkan melalui peran beliau dalam menyesuaikan ajaran
Islam dengan budaya lokal dan perjuangan kebangsaan. Pendekatan yang
menghormati kearifan lokal masyarakat Jawa serta seruan jihad untuk melawan
kolonialisme menunjukkan bahwa pemikiran beliau mampu menghadirkan Islam
sebagai kekuatan sosial dan politik dalam membangun peradaban.
Rujukan
Nasution, Harun. Islam Ditinjau
dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Press, 1985.
Anam, Choirul. Pertumbuhan dan
Perkembangan NU. Surabaya: Duta Aksara Mulia, 1999.
Abdurrahman, M. Pembaruan
Pemikiran dalam Islam. Yogyakarta: LKiS, 2000.
Bruinessen, Martin van. Tradisi,
Relasi-relasi Kuasa, dan Pencarian Identitas: Islam di Masa Kolonial. Jakarta:
Mizan, 1999.
Rais, Ahmad. Jihad Kebangsaan KH.
Hasyim Asy'ari. Malang: UIN Maliki Press, 2017.